Rabu, 29 Juli 2009

MUSIK LITURGI DALAM TERANG KONSILI VATIKAN II DAN UPAYA PENGAPRESIASIANNYA DI TENGAH PENGARUH PROGRESI MUSIK POP DEWASA INI



(Oleh: Bernhard Morin Epalonian)

I. PENDAHULUAN

Kemajuan teknologi telah membawa manusia kepada kemudahan dalam berbagai aspek kehidupan. Beragam fasilitas teknologi modern diciptakan bagi kepraktisan cara kerja manusia. Baik yang berskala besar maupun yang berskala kecil, berbagai sarana penunjang usaha manusia telah dirancang dalam kemasan teknologi.
Akan tetapi, di samping membawa kemudahan dalam berbagai aspek kehidupan, kemajuan teknologi ternyata dapat juga membawa kemerosotan nilai dalam peradaban manusia secara kultural. Inilah sebuah fenomena zaman, yang oleh kaum futurolog telah diramalkan sebagai fenomena paradoksal, bahwa globalisasi dan modernisasi teknologi akan menempatkan manusia zaman ini dalam ‘zona mabuk teknologi’.
Salah satu gejala kultural dari zona mabuk teknologi ialah lahirnya sebuah homogenitas budaya pop. Dalam sebuah kebudayaan pop, nilai seni klasik dan kultur etnik yang bermutu tinggi tidak lagi menempati posisi yang semestinya dijunjung tinggi. Beragam lirik lagu dan corak musik tidak lagi dinilai dari kualitasnya, tetapi bergantung pada selera pasar dan nilai popularitasnya. Fenomena ini sejalan dengan konsep pemikiran filsuf postmodern: Jean Baudrillard, bahwa nilai suatu benda tidak ditentukan lagi oleh nilai tukar berdasarkan kualitas, melainkan oleh nilai reklame. Tidak juga mengherankan jika basis penghormatan terhadap khazanah musik yang khas dari tradisi budaya atau pun agama tidak ditumbuhkembangkan melalui apresiasi yang berkesinambungan, maka berbagai jenis musik yang bercorak pop (profan) laris dalam tayangan media dapat mempengaruhi keberadaan musik-musik yang bersifat ritual tersebut.
Musik liturgi adalah suatu musik ritual keagamaan dalam Gereja Katolik, yang dewasa ini yang seringkali terpengaruh oleh progresi musik ‘pop’. Secara kasat mata, tampak bahwa di tengah globalisasi dan homogenitas budaya pop dewasa ini, terdapat indikasi masuknya unsur-unsur profan ke dalam musik liturgi. Penilaian yang menekankan emosi, intuitif dan tidak harus menekankan seni musik Gereja yang bermutu tinggi, telah menjadikan lagu-lagu bernuansa pop dianggap selaras dengan selera umat. Lagu-lagu bernuansa pop seakan-akan dinilai lebih bergengsi untuk menciptakan suasana liturgi yang mengikuti perkembangan zaman.
Persoalan ini mendorong penulis untuk membangun sebuah wacana tentang perlunya mengangkat citra musik liturgi Gereja Katolik, di tengah pengaruh kultur modern dan globalisasi dewasa ini. Ikhtiar tersebut muncul dari kesadaran akan gagasan yang terungkap dalam Konsili Vatikan II, bahwa “Tradisi musik Gereja merupakan kekayaan yang tak terperikan nilainya, lebih gemilang dari ungkapan-ungkapan seni lainnya, terutama karena nyanyian suci yang terikat pada kata-kata merupakan bagian liturgi meriah yang penting dan integral...” (Konstitusi Liturgi [Sacrosanctum Concilium] artikel 112) . Selanjutnya, membangun citra musik liturgi, secara ekspilisit diungkapkan dalam Konsili Vatikan II melalui Konstitusi Liturgi artikel 114, yang berbunyi: “Khazanah musik liturgi hendaknya dilestarikan dan dikembangkan secermat mungkin...”.
Sejak awal perkembangannya, Gereja Katolik telah memaknai musik sebagai suatu bentuk komunikasi iman dalam perayaan liturgi. Hal ini selaras dengan pandangan St. Agustinus, bahwa eksistensi musik bukan sebuah eksistensi material atau yang mencakup panca indera semata, melainkan suatu eksistensi yang bersifat spritual. Ekspresi terhadap peranan musik dalam doa dan peribadatan Gereja, diungkapkan St. Agustinus dalam sebuah pepatah Latin, yakni Bene cantat bis orat; yang berarti: ”Bernyanyi dengan baik adalah berdoa dua kali”. Ungkapan ’bernyanyi dengan baik’ ini sesungguhnya menunjukkan suatu gradasi penghayatan dari sebuah aktus bernyanyi dalam ibadat Gereja. Artinya bernyanyi di dalam sebuah peribadatan, bukan sekedar melantunkan kata melalui nada-nada yang indah untuk menyenangkan hati, tetapi lebih dari itu ialah untuk membangun sebuah komunikasi iman yang dihayati melalui keindahan nada, syair lagu dan irama yang selaras dengan jiwa liturgi. Oleh karena itu untuk menghayati musik sebagai sarana doa yang berdaya guna, dibutuhkan juga corak musik yang menunjang ibadat atau perayaan liturgi, yang mampu memperdalam sikap batin kepada Allah.
Prinsip fundamental yang menjadikan musik liturgi dinilai penting adalah relasi musik dengan aspek kebatinan dan kejiwaan manusia. Setiap manusia mengalami musik dengan melibatkan ekspresi batin dan jiwanya. Artinya meskipun ia memiliki kaidah-kaidah ilmiah-matematis, namun dalam pengapresiasiannya musik mengekspresikan batin dan jiwa manusia. Hal ini menegaskan bahwa dalam kehidupan religius dari berbagai agama, musik memainkan peranan penting dalam ritus-ritus keagamaan, entah lewat bunyi-bunyian instrumen musik maupun lewat nyanyian-nyanyian ritual. Dari fenomena ini, maka adalah penting untuk mengetahui makna dan sejarah apresiasi Gereja terhadap musik sebagai sebuah sarana peribadatan yang kini telah dikenal dengan sebutan ’musik liturgi’.

II. MUSIK LITURGI DAN SEJARAH PERKEMBANGANNYA

2.1. Pengertian Musik Liturgi

Untuk membangun pemahaman yang komprehensif tentang musik liturgi, maka pengertian musik itu sendiri perlu terlebih dahulu diuraikan. Secara etimologis, kata musik berasal dari bahasa Yunani, yaitu “muse” yang berarti seni, dengan kata sifatnya “musike”. Kemudian Ptolomeus, seorang ahli filsafat abad 2 SM, mencoba mendefenisikan musik sebagai kemampuan untuk mengolah nada dari yang tinggi sampai yang rendah menurut panca indera dan akal budi.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, musik didefenisikan dalam dua pengertian. Pertama, musik adalah ilmu atau seni menyusun nada atau suara dalam urutan, kombinasi, dan hubungan temporal untuk menghasilkan komposisi nada yang mempunyai kesatuan dan kesinambungan. Kedua, musik adalah nada atau suara yang disusun sedemikian rupa sehingga mengandung irama, lagu, dan keharmonisan terutama yang menggunakan alat-alat yang dapat menghasilkan bunyi-bunyi itu.
Namun harus diakui bahwa pengertian musik yang sempurna sulit didefenisikan. Hal ini dilandasi oleh keunikan musik itu sendiri. Apabila musik digambarkan sebagai ilmu, seni atau bunyi yang teratur (harmonis), hal ini sama sekali tidak menjelaskan keunikan dan kekuatan sebuah musik. Ketika mendengarkan musik, suasana hati manusia dapat menjadi sedih atau gembira, oleh karena kekuatan suara musik, yang lebih cepat dari imajinasi maupun kata-kata manusia.
Oleh karena itu, pengertian musik yang kiranya dapat mendekati arti yang komprehensif, adalah gagasan yang dirumuskan Antony Hopkins, dalam bukunya Understanding Music. Dalam buku tersebut, Antony Hopkins menyatakan bahwa musik adalah sebuah ungkapan ekspresi perasaan, pikiran yang dikeluarkan secara teratur dalam bentuk bunyi. Pengertian singkat ini menyatakan dua elemen dasar sebuah musik yakni, ’bunyi yang teratur secara fisikal’ dan ’aspek penciptaan yang bersifat eksperesif’.
Dari pengertian musik di atas, lantas apakah musik liturgi itu? Ditinjau dari tujuan apresiasinya, musik secara umum terbagi dalam dua bentuk yakni musik ritual dan musik profan. Musik ritual adalah musik yang diapresiasikan untuk mendukung upacara-upacara ritual, seperti adat (tradisi) maupun upacara keagamaan. Dalam berbagai kebudayaan dan agama, bunyi yang dihasilkan oleh instrumen atau alat tertentu diyakini memiliki kekuatan magis. Begitu pula dalam berbagai agama, terdapat jenis-jenis musik tertentu yang digunakan dalam ritus-ritus keagamaan. Sedangkan musik profan atau musik populer, adalah musik yang bernuansa bebas (tidak bersifat sakral) dan digemari dalam masyarakat serta diapresiasikan sebagai sarana hiburan. Musik tersebut menggunakan irama bebas dan komposisi melodinya mudah dicerna dan besifat inovatif. Dari uraian ini, pengertian musik liturgi secara singkat dapat dikatakan sebagai musik sakral dalam agama Katolik, atau musik yang dibawakan dalam liturgi Gereja Katolik.
Namun untuk menggagas arti musik liturgi secara lebih mendasar, pertama-tama harus bertolak dari pemahaman akan arti liturgi itu sendiri. Adapun arti liturgi yang digagas para ahli, yakni sebagai ”perayaan keselamatan dalam bentuk tanda dan simbol yang dilaksanakan oleh Gereja”. Dari pengertian ini, musik liturgi adalah salah satu simbol dalam liturgi. Secara umum simbol dipahami sebagai suatu wujud konkrit yang menyatakan dan mengungkapkan sesuatu yang lain di luar dirinya. Demikian pun dalam liturgi, simbol memiliki fungsinya sebagai sarana untuk membantu orang menghayati imannya akan misteri penyelamatan Kristus bagi Gereja. Dengan ini, musik liturgi termasuk suatu bentuk simbol yang digunakan sebagai sarana untuk merayakan misteri keselamatan itu.
Tanpa terlepas dari arti simbolis tersebut, dalam Kamus Liturgi Sederhana, musik liturgi didefenisikan sebagai musik yang digubah untuk perayaan liturgi (untuk melagukan teks atau lagu liturgi dan mengiringinya) dengan bentuknya yang memiliki suatu bobot kudus tertentu. Bobot kudus inilah yang perlu dihayati, sehingga musik liturgi dapat berdaya guna sebagai simbol untuk merayakan misteri keselamatan.

2.2. Sejarah Perkembangan Musik Liturgi

2.2.1. Periode awal (tahun 100-900)

Pada zaman ini musik liturgi dikenal dengan istilah ‘nyanyian pujian’, nyanyian mazmur dan kidung pujian (Bdk. Kis 16:25; Ef 5:19; Kol 3:16). Musik dalam periode ini memiliki dua sumber utama, yang menjadi latar belakang musik gereja, yakni musik Yahudi dan musik Yunani.
Pertama, musik Yahudi. Musik ini berkembang dalam masa pemerintahan raja Daud. Atas usaha raja Daud (±1012-972 SM), mazmur-mazmur disusun dalam bentuk yang paralel, guna menyejajarkan setiap kalimat. Untuk menyanyikan mazmur-mazmur dibutuhkan dua kor di mana mazmur-mazmur tersebut dapat dibawakan dengan cara saling bersahutan. Musik ini berkembang dan mencapai puncaknya pada musik kenisah di Yerusalem pada masa pemerintahan raja Salomo (±972-929 SM).
Usaha-usaha para ahli untuk menemukan lagu yang otentik atau alat musik yang disebut dalam Alkitab belum membawa hasil yang baik. Peninggalan-peninggalan kuno di Mesopotamia dan Mesir masih dapat memperlihatkan contoh-contoh alat musik kuno mereka di zaman lampau, namun tidak satu pun alat musik dari Alkitab yang diketahui secara pasti. Hasil penelitian para musikolog untuk menemukan notasi musik kuno di sekitar Laut Mati belum menunjukkan gejala-gejala titik terang. Meskipun demikian, masih terdapat keterangan yang dapat menjadi pegangan untuk bermusik, antara lain teks nyanyian dan cara membawakan musik. Atas usaha raja Daud (1012-972 SM), telah disusun mazmur-mazmur berbentuk paralel, artinya tiap-tiap kalimat dinyanyikan sejajar. Untuk menyanyikan mazmur-mazmur dibutuhkan dua kor yang saling melengkapi, yaitu dengan cara saling bersahut-sahutan. Cara tersebut kemudian mempengaruhi cara membawakan musik Gregorian, yakni nyanyian secara ‘antiphonal’ atau ‘responsorial’.
Perkembangan musik tersebut kemudian berlanjut dalam sinagoga-sinagoga, sesudah pembuangan di Babilonia pada abad ke-6 SM. Umat Yahudi membangun berbagai sinagoga sebagai tempat ibadat yang tetap sesudah pembuangan, sebab kenisah Yerusalem telah dihancurkan musuh. Mereka membawakan doa-doa dan mazmur-mazmur yang bersifat responsorial. Ada pun dua gaya bernyanyi dalam musik sinagoga, yaitu ‘syllabis’ dan ‘melismatis’. Dalam gaya syllabis, tiap suku kata diberi hanya satu nada, walaupun melodinya sangat bervariasi, misalnya pada kadens awal (initium) atau pada kadens terakhir (finalis). Sedangkan gaya melismatis bersifat kololatur, yang dinyanyikan oleh solo. Ciri khas gaya ini adalah pada satu suku kata diberi banyak nada atau suatu melodi kecil. Dari cara inilah umat Yahudi sesunggunya telah mewariskan beberapa unsur yang berharga bagi perkembangan musik Gereja khususnya musik Gregorian.
Kedua, musik Yunani (± 675-146 SM). Dalam masyarakat Yunani kuno, nyanyian erat kaitannya dengan puisi dan para “minstrel” (dapat dibandingkan dengan “pengamen” di Jawa) yang selalu berkeliling untuk membawakan lagu–lagu secara resitatif. Alat musik ’lira’ dipetik sebagai iringan dan sering berfungsi sebagai instrument solo. Selain itu dipakai juga alat musik tiup 'aulos’ yang terbuat dari bulu.
Teori musik Yunani berkembang dalam waktu sekitar 600 tahun. Musik Yunani dipercaya sebagai musik terbaik dan terkenal di antara musik lain dalam sejarah musik dunia. Literatur musik Yunani sangat mempengaruhi perkembangan teori musik di seluruh dunia, dan mempelopori lahirnya musik keagamaan dan musik klasik di Eropa. Seperti halnya sejarah Yunani penuh dengan kejayaan di berbagai bidang penemuan, filsafat dan peradaban rakyatnya, demikian pun musik Yunani, ikut memberikan warna kemajuan bagi kebudayaan Yunani, bahkan bagi perkembangan musik dunia pada umumnya. Dalam kehidupan bangsa Yunani pada masa lampau, musik digunakan sebagai sarana hiburan, perayaan rakyat dan juga kegiatan ritual kegamaan.

2.2.2. Zaman Abad Pertengahan (tahun 900-1500)

Di zaman ini, lagu-lagu Gereja hidup dan berkembang berkat adanya sekolah Katedral dan perhatian khusus dari berbagai biara dan dikenal dengan istilah cantus ecclesiaticus (nyanyian Gerejani). Atas usaha Protinus, seorang komponis zaman itu, lagu duplum (ganda) dikembangkan menjadi lagu gereja dengan empat suara bergaya motet.
Seorang komponis lain, Adam de la Halle (1220-1287), menggubah lagu tiga suara dalam irama yang sama, yang disebut condustus. Usaha ini dikembangkan lagi oleh Guillaume de Machault (1305-1377), dengan menciptakan misa Notre Dame di Paris. Semua karya musik yang demikian, dikenal dengan sebutan ars antiqua yang berarti seni antik (seni lama). Musik ini terasa kaku dan berat. Hal ini disebabkan karena notasi musik yang primitif, dengan memakai nada panjang dan pendek, yang diatur menurut enam modus irama. Kemudian dengan adanya perkembangan bentuk not untuk membedakan nilai nada, maka muncullah gaya musik baru yang dirancang Philippe de Virty (1290-1361), yang disebut sebagai ars noval yang berarti seni baru. Ritme lama pada motet diganti dengan dasar kesamaan hitungan.

2.2.3. Zaman Barok

Zaman Barok berlangsung sekitar 150 tahun, yaitu dari tahun 1600 sampai dengan tahun 1750. Gagasan estetika zaman ini memiliki pengaruhnya bagi aspek-aspek kultur Eropa pada umumnya. Pada periode ini, pusat kegiatan musik terdapat di Italia dan Jerman. Ada sejumlah ciri khas musik Barok. Pertama, terdapat gaya stile concertato (gaya konser kecil), yaitu sebuah konsep yang membuat oposisi antara vokal melawan instrumental dan antara solo melawan ensambel. Kedua, munculnya basso continuo yaitu suara bass yang memiliki peran melodis dan harmonis sekaligus, dan dimainkan oleh kombinasi dua jenis instrumen.
Secara umum pada zaman Barok manusia memandang Tuhan sebagai seorang Raja. Hal ini mempengaruhi cara-cara pemujaanNya, termasuk cara penghormatan lewat musik. Dalam rangka memuliakan Tuhan secara meriah, para komponis zaman Barok menciptakan nyanyian yang berbentuk koor dengan orkestrasi yang semarak. Dengan itu liturgi Barok lebih hidup dan memiliki nuansa pesta yang meriah. Sejumlah komponis yang terkenal pada zaman ini antara lain: Claudio Monteverdi (1567-1643), Jean Philippe Rameau (1683-1764), George Frederick Handel (1685-1759), dan Johann Sebastian Bach (1685-1750).

2.2.4. Zaman Klasik

Liturgi Barok yang mewah dan mempesona pada akhirnya dinilai tidak menjamin terciptanya hubungan yang akrab antara manusia dengan Tuhan. Dengan itu, manusia mulai memberanikan diri untuk memecahkan masalah kehidupan dengan kemampuan akal budi sendiri. Inilah sebuah zaman baru yang dikenal sebagai zaman pencerahan (aufklarung). Perasaan manusia yang disanjung zaman Barok kini diganti oleh otak atau rasio.
Tentang perkembangan musik di zaman ini, ada dua hal yang perlu dibedakan ialah musik pada masa pra-klasik dan masa klasik itu sendiri. Musik pra-klasik adalah musik yang berkembang di masa transisi, antara zaman Barok dan zaman Klasik. Perubahan konsep bentuk, gaya dan medium masa pra klasik terjadi sekitar tahun 1740 sampai tahun 1770. Namun garis batas yang jelas di akhir zaman barok, pra klasik sebenarnya sulit dilihat. Campuran gaya sering terjadi pada karya-karya dari seorang komponis yang sama.
Periode klasik terjadi sekitar pertengahan abad ke-18 sampai tahun 1920. Tekstur musik klasik memiliki sifat yang homofon dan gaya melodi sering bersifat kompak. Namun harmoni musik klasik umumnya kurang kompleks dibandingkan dengan harmoni Barok. Improvisasi musik zaman klasik pun berkurang dengan hilangnya bass continuo. Semua akor ditulis jelas, dan frase serta dinamiknya ditulis secara lengkap.
Pada periode klasik ini, para komponis gemar akan bentuk musik yang absolut, yaitu musik instrumental dibuat dengan memakai istilah sonata, simponi atau kwartet. Beberapa komponis ternama zaman klasik antara lain: Franz Joseph Hayden (1732-1890), Wolfgang Amadeus Mozart (1756-1791), Christoph Wlilibald von Gluck (1714-1787), dan Ludwig van Beethoven (1770-1827).
Seperti pada akhir zaman Barok, dominasi gaya dan bentuk opera sangat menonjol. Pengaruh opera dan bentuk oratorium dalam perayaan liturgi Gereja sangat terasa. Oratorium yang terkenal misalnya, Die Jahreszeiten (1801) dan Die Schöpfung (1798) yang merupakan dua buah karya Hayden. Selain oratorium, perayan liturgi juga diwarnai oleh opera, misalnya pada komposisi untuk solo, koor dan orkes. Tiga tokoh klasik terbesar pada zaman ini yang telah mewariskan ’misa-misa’ mereka adalah Beethoven, dengan karyanya Misa Solemnis, Mozart, dengan karyanya Misa Requiem, dan Hayden dengan karyanya Lord Nelson Mass.
Terhadap berbagai macam bentuk ’Misa’ di zaman Klasik Gereja Katolik memberikan beberapa tanggapan. Sri Paus Benediktus XV dalam ensikliknya “Annus qui” (1749) menentang gaya teatral musik Barok dalam gereja, namun mendukung misa orkes simfoni dengan syarat utamanya adalah untuk menciptakan sikap batin yang saleh dan bukan untuk kenikmatan telinga semata. Gereja menginginkan suatu bentuk yang cocok dengan nilai ibadat untuk menghormati Tuhan.

2.2.5. Zaman Romantik

Zaman Romantik muncul pada akhir abad 18 dan bertahan dalam bentuknya yang murni sampai pertengahan abad 19. Romantik bukan saja suatu gaya atau sistem, tetapi suatu gerakan kerohanian, suatu cara berpikir dan merasakan berbagai hal di semua bidang, yakni seni, ilmu pengetahuan, sastra, filsafat, agama dan politik. Gerakan ini merupakan suatu upaya evaluasi secara umum tentang kehidupan dalam alam perasaan, sebagai reaksi terhadap rasionalisme abad 18.
Ciri musik romantik menekankan perasaan kasih dan sifat kemandirian yang menonjol. Beberapa komponis yang lahir pada zaman ini antara lain Franz Schubert, Revlioz, Frederick Chopin, Wagner dan Brahms. Pada masa ini, musik lebih dimanfaatkan sebagai sarana untuk mengungkapkan kasih antara manusia dengan Tuhan.
Sejarah Gereja Katolik turut mengalami perubahan berhubungan dengan perkembangan politik pada abad 19 di Eropa. Mula-mula hampir di seluruh wilayah Italia terdapat negara Gereja sebagai kekuatan duniawi yang lengkap dengan kekuasaan finansial. Namun Pada tahun 1860, negara Gereja dibatasi pada Vatikan, suatu negara mini tanpa peranan politik, tanpa kekuatan jasmani dan hanya sebagai pusat rohani. Kegiatan rohani terbatas pada kegiatan di Gereja, namun dengan semangat yang berkurang. Permohonan untuk memakai lagu-lagu ibadat dalam bahasa pribumi berulangkali ditolak oleh Roma. Akibatnya, umat tetap bersikap pasif dalam peribadatan. Kor di paroki tidak mampu membawakan karya musik Gereja sejati seperti Misa ciptaan Mozart, Palestrina, Haydn dan sebagainya. Karena itu, lahirlah karangan musik gereja yang sederhana. Ada pun pada masa Natal, jenis lagu yang dipakai adalah lagu rohani Natal dan bukan lagu ibadat. Nyanyian rohani dipakai karena dinilai mencerminkan iman umat yang seadanya namun sebenarnya merupakan sebuah kemerosotan budaya.

2.2.6. Zaman abad ke-20

Pada abad ini, musik mulai dihidupkan oleh Gereja untuk kegiatan-kegiatan ibadat. Musik mengalami perkembangan yang pesat dan telah memiliki makna yang lebih mendalam. Tahun 1903 dalam Motu Proprio Tra le Sollecitudine (Paus Pius X) istilah musica sacra menjadi istilah umum untuk nyanyian gregorian maupun untuk musik polifon. Kemudian melalui Konsili Vatikan II pada tahun 1963 sampai dengan tahun 1965, musik liturgi mendapat warna baru di mana corak musik liturgi tidak hanya sebatas pada musik Gregorian dan polifoni tetapi juga termasuk corak musik etnik (tradisional) yang diinkulturasikan ke dalam musik liturgi.
Konsili Vatikan II melalui dokumen artikel 112 Konstitusi Liturgi menegaskan bahwa musik Gereja kiranya semakin suci jika erat hubungannya dengan upacara ibadat dengan menjadikan ungkapan doa lebih mendalam, rasa kebersatuan hati umat semakin dipupuk dan upacara-upacara suci semakin diperkaya dengan nuansa yang agung dan khidmat. Oleh karena itu untuk membangun sebuah khaznah musik liturgi yang sesuai dengan prinsip tersebut, Konsili Vatikan dalam bab ke-16 Konstitusi Liturgi menekankan sejumlah aspek yang menunjang penataan dan pengembangan musik liturgi, seperti pendidikan musik liturgi, komposisi musik, musik di daerah misi dan sebagainya. Singkatnya, Konsili Vatikan II yang terjadi di abad ke-20 membawa perubahan yang sangat besar dalam musik liturgi Gereja Katolik. Hal ini akan dikaji secara khusus dalam bab tiga.

2.3. Kesimpulan

Musik adalah sebuah elemen penting yang mendapat perhatian khusus dalam liturgi Gereja Katolik. Perayaan liturgi Gereja Katolik dalam sejarahnya menjadi lebih agung dan khidmat dengan adanya musik. Komunikasi iman dihadirkan lewat musik baik melalui nyanyian yang mengkomunikasikan iman secara verbal, maupun melalui iringan musik yang mengekspresikan kebatinan lewat alunan nada-nada yang adalah bahasa musik itu sendiri.
Kekuatan musik untuk menciptakan suasana agung dan khidmat dirasakan dan dialami sepanjang sejarah Gereja Katolik. Kilas balik sejarah musik liturgi memperlihatkan suatu proses berkembangnya apresiasi Gereja terhadap aspek musik dalam Gereja, sampai menjadikannya sebuah unsur yang disatukan dalam liturgi. Refleksi historis ini kiranya berguna bagi apresiasi dan penghayatan musik liturgi dewasa ini. Sebagai musik yang sejatinya memiliki bobot sakral dalam liturgi, musik liturgi harus terus dipelihara dan dikembangkan untuk memuliakan Allah dan menguduskan manusia.


III. MUSIK LITURGI DALAM TERANG KONSILI VATIKAN II



Wacana Konsili Vatikan II memberikan ‘angin segar’ bagi perkembangan musik liturgi Gereja Katolik. Dalam Konsili inilah musik liturgi untuk pertama kalinya mendapat perhatian dan porsi pembicaraan yang begitu besar sepanjang sejarah Gereja. Perhatian ini diungkapkan manakala konsili Vatikan II menyediakan satu bab khusus yang membahas tentang musik liturgi, yakni bab enam Dekrit Sacrosantum Concilium.
Terbentuknya pedoman dasar musik liturgi dalam Konsili Vatikan II, telah mengangkat nilai kesejatian musik Gereja Katolik. Namun pedoman ini perlu dipahami sehingga tidak terkesan hanya sebagai sebuah wacana idealisme dalam Konsili vatikan II, melainkan dapat diwujudkan secara nyata dalam praktek berliturgi dewasa ini. Dalam bagian ini, penulis menggambarkan tentang musik liturgi dalam terang Konsili Vatikan II, antara lain yang meliputi hakekat, dimensi-dimensi, tujuan dan corak musik liturgi, sarana pengiring dan pertimbangan musik liturgi.

3.1. Hakekat Musik Liturgi

Musik liturgi adalah musik yang mulia dan agung. Kesan ini demikian kuat terasa, manakala kita menelusuri liku-liku sejarah pekembangannya yang telah dihayati dalam Gereja Katolik, seperti yang telah dirumuskan dalam bab terdahulu. Kesadaran Gereja akan kekayaan nilai musik liturgi terungkap dalam Dekrit Sacrosantum Concilium Konsili Vatikan II, yang berbunyi:
“Musik liturgi merupakan khazanah gereja universal yang tak terduga nilainya. Ia unggul di antara ungkapan-ungkapan seni lainnya, terutama karena ia merupakan bagian yang “mutlak” dan integral dari liturgi yang mulia. Musik liturgi makin luhur sejauh ia makin erat dihubungkan dengan liturgi, baik karena mengungkapkan doa-doa dengan lebih manis, maupun karena memupuk kesatuan serta memperkaya upacara kudus dengan kemeriahan yang lebih agung”.

Pernyataan ini mengungkapkan hakekat musik liturgi. Musik liturgi bukan suatu unsur luar yang ditambah untuk menghias atau memperindah liturgi saja, melainkan suatu bagian integral (pars integralis) dan elemen konstitutif dari liturgi itu sendiri.

3.2. Dimensi-Dimensi Musik Liturgi

Musik liturgi memiliki tiga dimensi penting berdasarkan sejumlah uraian pokok dalam Konstitusi Liturgi Konsili Vatikan II. Dimensi-simensi itu adalah dimensi liturgis, eklesiologis dan kristologis. Ketiga dimensi tersebut memiliki kaitan erat satu sama lain.
3.2.1. Dimensi Liturgis

Konsili Vatikan II menekankan bahwa musik liturgi bukan sekadar untuk selingan, tambahan, atau dekorasi demi kemeriahan liturgi, melainkan merupakan bagian Liturgi yang penting atau integral. Dengan kata lain, musik liturgi adalah ‘liturgi’ itu sendiri.
Jika kita bertolak dari paham tentang liturgi sebagai perayaan perjumpaan dengan Allah, maka yang boleh menjadi musik liturgi adalah musik dan nyanyian yang dapat membantu orang dapat mengalami perjumpaan dengan Allah. Maka musik yang dikehendaki dalam liturgi adalah musik atau nyanyian yang dapat menghantar orang kepada sebuah pangalaman batiniah akan Allah. Musik liturgi yang baik dapat membangun sebuah doa atau peribadatan yang baik pula.

3.2.2. Dimensi Kristologis

Dalam Konstitusi Liturgi 112, musik liturgi dipandang sebagai sarana untuk memuliakan Allah dan menguduskan umat beriman. Pemuliaan Allah dan pengudusan umat beriman ini merupakan tujuan Gereja sebagai perwujudan karya penebusan Yesus Kristus yang dirayakan dalam perayaan liturgi. Maka, musik liturgi sebagai bagian integral dalam liturgi hendaknya mengungkapkan iman akan misteri Kristus. Bahwa Kristus hadir dalam liturgi harus terungkap dalam nyanyian liturgi. Dengan ini, musik liturgi dapat menjadi media yang memperjelas misteri Yesus Kristus dalam liturgi. Melalui syair-syair yang bernuansa biblis dan teologis, nyanyian liturgi hadir untuk memperdalam misteri iman akan Yesus kristus yang dirayakan dalam liturgi.

3.2.3. Dimensi Eklesiologis

Musik liturgi dapat membantu umat dalam berpartisipasi secara aktif dalam liturgi. Dalam artikel 114 Konsili Vatikan II dikatakan bahwa ”..upacara liturgi menjadi lebih agung, bila ibadat kepada Allah dirayakan dengan nyanyian meriah, bila dilayani oleh petugas-petugas Liturgi, dan bila umat ikut serta secara aktif”.
Berbagai nyanyian dan musik yang amat sesuai dengan tema liturgi dan tempatnya akan membantu umat dalam memasuki misteri iman yang dirayakan dan memungkinkan umat untuk lebih baik menangkap sabda Tuhan dan karunia sakramen yang dirayakan. Di samping itu, nyanyian dapat ikut membangun kebersamaan umat yang sedang beribadat. Kebersamaan itu mungkin sudah tercipta sejak tahap persiapan seperti ketika para anggota kor dan pengiring berlatih. Dengan ini, nyanyian liturgi akan sangat membantu untuk mempersatukan umat dalam setiap perayaan liturgi.

3.3. Tujuan Musik Liturgi

Disimak dari sejarahnya, musik liturgi bertujuan untuk membawakan doa dan puji-pujian kepada Tuhan dengan ekspresi batin yang lebih mendalam. Dalam perjalanan waktu Gereja memandang musik tersebut sebagai musik suci. Ia disebut suci karena hubungannya yang erat dengan upacara ibadat Gereja. Sebagai sarana yang merupakan bagian integral dari liturgi maka tujuan musik liturgi berkaitan erat dengan tujuan liturgi itu sendiri yakni sebagai sarana untuk memuliakan Allah dan mengudusan manusia. Adapun tujuan tersebut dijabarkan dalam tiga tujuan apresiasi musik liturgi dalam perayaan liturgi Gereja, yaitu tujuan dekoratif, unitatif dan eskatologis.

3.3.1. Tujuan Dekoratif

Sebagai sebuah kekayaan nilai seni dalam tradisi Gereja Katolik, musik liturgi memiliki sebuah tujuan dekoratif yakni memperkaya upacara suci dengan kemeriahan yang lebih semarak. Bernyanyi dan bermusik adalah sebuah ekspresi seni dalam kehidupan manusia. Lewat bernyanyi manusia dapat menyampaikan isi hati secara lebih mendalam dan intensif jika dibandingkan dengan sekedar berkata-kata. Oleh karena itu, dengan memperhatikan efek psikologis dari musik dalam kehidupan manusia maka dalam kehidupan perayaan liturgi musik dipakai sebagai sarana untuk mengungkapkan doa-doa dan puji-pujian secara lebih menarik untuk kemuliaan Tuhan dan pengudusan umat beriman.

3.3.2. Tujuan Unitatif

Dalam liturgi, setiap lagu yang dinyanyikan umat secara bersama memiliki daya yang memersatukan. Musik liturgi dapat bermakna seturut identitasnya, jika dihidupkan bersama dalam perayaan. Oleh karena itu, musik atau nyanyian liturgi mengabdi pada partisipasi umat dalam ibadat, sebagaimana yang diuraikan dalam artikel 114 Konstitusi Liturgi yang menghendaki agar pada setiap upacara liturgi yang dinyanyikan segenap umat beriman dapat ikut serta secara aktif dengan membawakan bagian yang diperuntukkan bagi mereka. Dengan ini liturgi sebagai sebuah perayaan Gereja, secara lahirian diungkapakan melalui nyanyian bersama. Kebersamaan inilah yang menjadikan musik liturgi lebih berdaya guna sebagai sarana doa dan pujian bagi Allah sekaligus demi pengudusan umat beriman.
Menyadari bahwa liturgi sendiri merupakan perayaan bersama, maka nyanyian itu harus melayani kebutuhan semua umat beriman yang sedang berliturgi. Yang harus dihindari adalah memilih lagu yang hanya berdasarkan selera pribadi atau kelompok. Kriteria lagu terletak pada apa yang dapat menjawab harapan dan kebutuhan umat agar perayaan liturgi sungguh menjadi perayaan bersama.

3.3.3. Tujuan Eskatologis

Aktus bernyanyi untuk memuji dan memuliakan Tuhan, secara biblis memiliki keberlanjutannya sampai pada kehidupan kekal. Kitab Wahyu Yohanes memberikan gambaran tentang para kudus di surga yang bernyanyi untuk memuliakan Kristus sebagai Anak Domba Allah (bdk. Why 5: 7-10). Gambaran ini membangun suatu penghayatan tentang musik liturgi yang bernilai eskatologis.
Namun prinsip utama yang memberikan makna eskalotolis bagi musik liturgi adalah perayaan liturgi itu sendiri yang merupakan perlambangan dari perayaan liturgi surgawi. Hal ini ditegaskan Gereja dalam Konsili Vatikan II melalui Sacrosantum Concilium artikel 8 yang berbunyi:
“...dalam liturgi di dunia ini kita mencicipi Liturgi surgawi, yang dirayakan di kota suci Yerusalem surgawi, tujuan peziarahan kita” (bdk. Why 21: 2; Kol 3: 1; Ibr 8: 2)...... bersama dengan segenap balatentara surgawi kita melambungkan kidung kemuliaan kepada Tuhan”.
Dengan ini, musik liturgi sebagai bagian integral dari liturgi memiliki nilai eskatologis yang perlu dihayati dalam kehidupan Gereja di dunia.

3.4. Jenis Musik Liturgi

3.4.1. Musik Gregorian

Musik Gregorian adalah khazanah dasariah musik liturgi Gereja. Hal ini ditegaskan dalam artikel 116 Konstitusi Liturgi alinea pertama, yakni bahwa:
“Gereja memandang nyanyian Gregorian sebagai nyanyian khas bagi Liturgi Romawi. Maka dari itu bila tiada pertimbangan-pertimbangan yang lebih penting, nyanyian Gregorian hendaknya diutamakan dalam upacara-upacara Liturgi”.

Sebagaimana telah digambarkan, corak musik Gregorian lahir dari corak musik Yahudi. Musik ini mula-mula dikenal dengan nama musik monofoni (satu suara). Namun pada abad pertengahan, Paus Gregorius Agung secara resmi memperhatikan musik Gereja dengan mengumpulkan melodi-melodi yang sudah dipakai di berbagai Gereja dan membentuk suatu kumpulan nyanyian resmi dalam ibadat umat dengan sistematika berdasarkan tahun liturgis. Sebagai tanda peringatan akan jasa Paus Gregorius Agung, maka nyanyian monofoni itu dinamakan ‘Gregorian’. Nyanyian tersebut telah dirasakan dan dihayati oleh Gereja selama berabad-abad sebagai nyanyian yang sakral, sebab menyatakan keindahan yang mulia atas dasar sifat kontemplatifnya. Nyanyian ini diartikan pula sebagai mistik doa Gereja yang diekspresikan dalam nuansa monofon.
Nyanyian Gregorian memiliki tangga nada khusus. Tangga nada ini diperkenalkan oleh seorang musisi dari biara St. Amand, yakni Haubald (840-930) dalam bukunya “The Harmonica Institutione” (Pengajaran Ilmu Harmoni). Ada delapan tangga nada dalam musik Gregorian yang disusun menurut teori modalitet Haubald, antara lain: doris, frigis, lidis, miksolidis, hipopodoris, hipofrigis, hipolidis, hipomiksolidis.
Setiap tangga nada pada nyanyian memiliki warta dan suasana khusus. Tangga nada doris dan hipodoris memiliki suasana yang bersifat serius dan berat. Tangga nada firigis dan hipofrigis, suasana yang diciptakannya bersifat mistis, lebut dan menyambung, seakan-akan tidak selesai. Tangga nada lidis dan hipolidis memberikan suasana senang, hidup dan gembira. Sedangkan, tangga nada miksolidis, dan hipomiksolidis memiliki kesamaan perannya dalam menciptakan suasana yang agung dan megah. Nuansa setiap lagu justru yang menjadikan musik Gregorian sering dirasa selaras dengan jiwa perayaan liturgis. Dinamika suasana yang diciptakan oleh sifat tangga nada tersebut, menjadikan musik Gregorian indah dan menawan dalam ritus-ritus peribadatan Gereja Katolik. Bentuk-bentuk modus ini dipakai sesuai dengan suasana perayaan liturgi, baik meriah maupun meditatif.
Selain kekhasan modusnya, musik Gregorian juga memiliki kekhasan dalam iramanya. Dalam seni musik modern, kini dikenal dua prinsip susunan gerakan, yaitu birama dan irama. Birama bersifat statis sedangkan irama bersifat dinamis. Irama merupakan suatu prinsip gerakan melodis yang penuh variasi, sedangkan birama merupakan prinsip gerakan yang sama (monoton). Namun hal ini tidak berlaku dalam musik Gregorian. Susunan gerakan kalimat musik Gregorian memiliki keunikan tersendiri. Pada musik Gregorian tidak terdapat prinsip birama yang tetap (statis).
Keindahan musik Gregorian juga ditunjang oleh bahasa Latin yang mempunyai keistimewaan dalam hal aksentuasi. Pada frase lagu Gregorian terdapat istilah sastra klasik yang disebut arsis dan tesis. Arsis adalah alunan melodi yang naik di mana nada-nada makin diangkat sampai mencapai puncak ketinggian. Sedangkan tesis adalah alunan melodi yang turun di mana nada-nada seolah-olah makin tenang mencapai tempat istirahat.
Selain irama, musik Gregorian juga memiliki gaya bernyanyi tersendiri. Gaya bernyanyi ini dibentuk oleh Dom Andre Mosquereau, OSB (1984-1930), seorang biarawan St. Piere dekat kota Solesma (Prancis). Ada tiga betuk gaya bernyanyi yang dikenal dalam Gereja Katolik hingga saat ini, yaitu: pertama, gaya sylabis, yang merupakan gaya bernyanyi yang paling mudah dan sederhana di mana satu suku kata (sulbe) dinyanyikan dengan satu not. Kedua, gaya melismatis, di mana satu suku kata dinyanyikan dengan beberapa not. Ketiga, gaya neumatis, yaitu gaya campran antara sylabis dan melismatis, di mana kelompok nada yang disusun, diselingi satu nada untuk satu suku kata. Selingan ini menjadi loncatan ke suku kata berikutnya, dengan susunan kelompok nada dalam bentuk yang lain lagi. Gregorian di abad pertengahan menjadi semakin “berbunga-bunga” melodinya dan semakin melismatis, terutama akhiran “a” dari kata Alleluia. Akhirnya muncul kebiasaan di mana “a” tersebut dengan banyak not, melodinya diisi dengan syair baru yang bersifat silabis.
Dengan gaya bernyanyi yang unik, musik Gregorian dapat dirasakan sebagai musik sakral sebagai ‘doa yang dinyanyikan’apalagi dalam musik Gregorian terdapat tiga bentuk nyanyian, yaitu nyanyian yang memiliki not resitatif, nyanyian biasa seperti dalam nyayian-nyanyian ordinarium dan nyanyian yang memiliki perulangan, seperti litani dan hymne. Maka sudah selayaknya jika Gereja Katolik melalui Konsili Vatikan II menyatakan nyanyian ini sebagai nyanyian khas dan paling utama dalam liturgi Romawi.

3.4.2. Musik Polifoni: Musik Klasik Gerejawi

Antara pertengahan abad IX sampai akhir abad XI, musik liturgi mengalami suatu perkembangan baru. Pada masa ini, para komposer mulai menambah harmoni pada lagu-lagu sehingga terbentuk lagu yang terdiri dari banyak suara. Musik yang demikian kemudian dikenal dengan nama musik polifoni. Giovani Perluigi seorang komponis dari Palestrina (1515-1594) adalah perintis tentang musik polifoni dengan membuat aransemen melodi yang banyak, sehingga setiap nada atau titik (point) bergerak secara mandiri atau berlawanan, di sinilah lahir ‘teori kontrapun’. Istilah polifoni terbentuk dari kata poli yang berati banyak dan fonem yang berarti bunyi, sehingga polifoni berarti bunyi yang banyak. Dalam perspektif ilmu musik, istilah polifoni diartikan sebagai gaya komposisi musik yang menggabungkan dua suara atau lebih.
Musik polifoni kemudian berkembang sebagai cikal bakal lahirnya paduan suara. Dengan itu, istilah polifoni yang dimaksudkan dalam Konstitusi Liturgi Konsili Vatikan II adalah musik dan nyanyian yang dikomposiskan dengan pembagian suara. Namun hal ini tidak berarti bahwa semua musik yang bercirikan polifoni dapat digolongkan sebagai musik liturgi. Konsili Trente menekankan bahwa Gereja melarang penggunaan nada-nada lagu sekular untuk musik keagamaan, dan mengharuskan agar kata-kata dalam setiap lagu harus ditonjolkan dan dibuat mudah dipahamai umat. Maka, di akhir abad XVII, musik liturgi dikomposisi dengan aransemen orkestrasi yang dinilai mampu mendorong umat kepada kehidupan devotif yang mendalam dengan berbasiskan teks Kitab Suci. Gagasan konsili Trente kemudian dipertegas dalam Konsili Vatikan II, yang menegaskan tentang syarat dasariah sebuah musik dapat disebut musik liturgi. Hal ini tercantum dalam artikel 116 Konstitusi Liturgi, yang berbunyi:
“Jenis-jenis lain musik liturgi, terutama polifoni, sama sekali tidak dilarang dalam perayaan ibadat suci, asal saja selaras dengan jiwa upacara Liturgi”.

Istilah polifoni semakin kurang digunakan, sebab khazanah polifoni sangat berkembang sangat baik dalam musik Klasik, Barok dan Romantik. Maka dewasa ini, salah satu bentuk musik polifoni yang dikenal adalah musik klasik Gerejawi. Namun musik klasik dewasa ini dipandang sebagai musik yang bernilai seni sangat tinggi sebagai warisan kebudayaan Eropa pada abad pertengahan. Sampai saat ini musik klasik Gerejawi sering digunakan khususnya dalam perayaan-perayaan besar. Karena nilai panghayatan akan aspek liturgis, kristologis dan eklesiologis yang dapat ditampakan dari apresisasi musiknya, maka musik klasik Gerejawi dianggap layak menjadi corak musik liturgi.
Menurut Ensiklopedi Indonesia, kata “klasik” adalah suatu karya cipta dari zaman lampau dengan nilai seni yang bermutu tinggi, yang keindahannya tidak akan luntur sepanjang masa. Hal ini terwujud dalam seni musik klasik Gereja yang memiliki nilai estetika yang tinggi yang mampu mengangkat kewibawaan liturgi Gereja. Lagu dan iringan musik ‘Malam Kudus’ karya F. Gruber dan ‘Halleluya’ karya G.F. Handel misalnya, merupakan musik klasik gerejawi dengan ‘daya mistik’ yang kuat dan menggema sepanjang masa.
Mula-mula musik klasik untuk liturgi Gereja terapresiasi dalam aspek vokal (nyanyian), sebab yang diutamakan dalam liturgi ialah syair. Sedangkan instrumen musik lebih dipandang sebagai unsur komplemen. Tetapi dalam perkembangannya, keindahan musik instrumen organ pipa yang bernuansa musik klasik dianggap penting di dalam sebuah perayaan liturgi. Pada abad ke-14 musik instrumental organ kemudian dipakai dalam liturgi. Musik ini dipakai dalam liturgi untuk menciptakan nuansa khidmad dalam peribadatan, entah dengan mengiringi nyanyian, maupun dengan melantunkan istrumen-instrumen klasik yang indah.
Musik klasik Gerejawi adalah musik yang memiliki mutu tinggi yang mampu membentuk peribadatan yang agung dan semarak di samping musik Gregorian. Ulrich Michels, dalam bukunya Atlas zur Musik, Band 2 berpendapat bahwa musik klasik Gerejawi tidak sebatas pada apresiasi keindahan nuansa musik tetapi juga memiliki pula suatu pewahyuan kebenaran yang jika direfleksikan dapat memberikan makna yang bernilai sepanjang sejarah.
Salah satu faktor yang menjadikan musik klasik seakan memiliki nilai mistik yang tak terungkapkan karena para pemusik klasik mencipta musik lewat refleksi dan penghayatan iman yang mendalam. Selain itu juga musik klasik menjadi sangat berkesan karena diciptakan dalam situasi di mana manusia abad ke-18 merasakan kesatuan dengan dunia (kosmos), dan berada dalam harmoni dengan sesama, bukan berdasarkan agama tetapi berdasarkan humanisme yang dipengaruhi oleh para filsuf eksistensial abad ke-18 seperti Kant, Hegel dan Ashopenhauer. Pada zaman klasik tersebut, iman terbuka untuk dunia maka semua unsur yang dapat memperlihatkan sikap terbuka ini diangkat ke dalam musik gereja (musik klasik gerejawi), sehingga musik tersebut memiliki daya mistik dan bahkan memiliki efek psikologis yang berguna untuk ketenangan hati dan kejernihan budi.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa musik klasik gerejawi dapat dihayati sebagai khaznah musik liturgi Gereja Katolik yang memberikan inspirasi bagi perkembangan musik Gereja. Di Indonesia misalnya, komposisi musik Gereja bereferensi pada kaidah-kaidah komposisi musik klasik. Selain itu dalam pola iringan organ Gereja, komposisi musik klasik menjadi warna khusus iringan organ Gereja, baik untuk mengiringi nyanyian klasik Gerejawi itu sendiri, maupun dalam mengiringi nyanyian Gregorian dan nyanyian inkulturatif. Pada dasarnya, iringan organ dalam musik liturgi tersebut disusun menurut pola “kantionalsatz” (gaya klasik), yakni iringan yang menggunakan sistem pembalikan akor dan bas berjalan. Organis Gereja yang mempelajari iringan tersebut, akan merasakan keindahan iringan musik liturgi.

3.4.3. Musik Inkulturatif

Istilah inkulturasi pertama kali muncul dalam dokumen penutup sinode para uskup “Ad Populum Dei nuntius” tahun 1979, dalam Himbauan Apostolik Paus Yohanes Paulus II “Catechesae trandendae”. Secara etimologis inkulturasi berasal dari kata “in”, yang berarti masuk ke dalam, dan “cultura” yang kata kerjanya “colore” berarti pengolahan (tanah); pembinaan, budaya. Dari kedua arti kata tersebut, inkulturasi berarti “masuk ke dalam budaya”. Kata ini kemudian dipakai secara populer dalam konteks liturgi Gereja Katolik. Anscar J. Chupungco mengartikan ‘inkulturasi liturgi’ sebagai proses di mana upacara-upacara keagamaan pra kristen diberi arti kristen. Istilah ini dipakai dalam Gereja Katolik Roma, yakni di mana unsur-unsur dan bentuk asli dari adat-istiadat diberi arti baru, yaitu arti kristiani.
Dalam bukunya yang berjudul ‘Penyesuaian Liturgi dalam Budaya’ , Anscar Chupungco menulis bahwa sebuah inkulturasi bila dilaksanakan dengan tepat, merupakan sarana yang ideal untuk mengkristenkan segenap kebudayaan. Namun hal ini membutuhkan tahapan yang cukup panjang. Oleh karena itu inkulturasi harus terjadi secara berkesinambungan, sebab dalam upaya membaharui Gereja, Konsili Vatikan II pertama-tama memugar liturgi Gereja. Jadi Konsili Vatikan II telah menjamin unsur-unsur hakiki dari ibadat Kristen dalam rangka memantapkan pertumbuhannya yang homogen.
Dalam Konsili Vatikan II, salah satu bentuk inkultursi dalam bidang liturgi yang diangkat secara khusus adalah inkulturasi musik liturgi. Hal ini tertuang dalan artikel 119 Konstitusi Liturgi yang berbunyi:
Di wilayah-wilayah tertentu, terutama di daerah Misi, terdapat bangsa-bangsa yang mempunyai tradisi musik sendiri, yang memainkan peran penting dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat. Hendaknya musik itu mendapat penghargaan selayaknya dan tempat yang sewajarnya , baik dalam membentuk sikap religius mereka, maupun dalam menyelesaikan ibadat dengan sifat-perangai mereka, menurut maksud art. 39 dan 40. Maka dari itu dalam pendidikan musik bagi para misionaris hendaknya sungguh diusahakan, supaya mereka sedapat mungkin mampu mengembangkan musik tradisional bangsa-bangsa itu di sekolah-sekolah maupun dalam ibadat.

Artikel di atas secara jelas telah memberikan sebuah rekomendasi bagi seni musik tradisional untuk memberi warna yang khas bagi perayaan liturgi yang bercorak budaya. Hal inipun didasarkan pada iman akan misteri inkarnasi, sehingga segala unsur kebudayaan termasuk di dalamnya adalah musik-musik tradisi mendapat ‘bobot kudus’ dengan menyatu dalam sebuah perayaan liturgi. Dengan demikian, musik inkulturatif dapat diartikan sebagai kesenian musik dari berbagai tradisi kebudayaan tempat Gereja bermisi, yang dimasukkan ke dalam liturgi sehingga memiliki ‘bobot kudus’ (nilai kesakralan) sebagai salah satu corak musik liturgi.
Namun tentang hal ini, Gereja tetap memberikan peringatan tertentu dalam berbagai kreativitas bermusik dalam liturgi, sehingga tidak menjadi ‘sangat bebas dan tidak terkendali’. Melalui instruksi pelaksanaan Konstitusi Liturgi, Gereja memberi catatan dalam pelaksanaan inkulturasi musik liturgi. Salah satu hal mendasar yang ditekankan adalah pada alinea ketiha dokumen liturgi Romawi dan inkulturasi nomor 40, bahwa bentuk musik, lagu dan alat-alat musik dapat digunakan dalam ibadat asal “cocok” atau dapat disesuaikan dengan penggunaan dalam liturgi, dan asal sesuai dengan keanggunan gedung gereja, dan sungguh-sungguh membantu memantapkan penghayatan umat beriman.

3.5. Instrumen Pengiring dalam Musik Liturgi

3.5.1. Organ Pipa

Organ pipa merupakan musik instrumen yang secara khusus dipakai dalam peribadatan Gereja sejak abad ke-9, yang semula merupakan instrumen musik profan. Instrumen tersebut mulai dipakai dalam gereja, pada masa Kaisar Karel Agung pada tahun 811. Dalam perkembangannya, organ pipa menjadi suatu bagian perlengkapan yang dirasa penting di dalam setiap gereja katedral. Ia bahkan dirasa menjadi musik yang mampu membangun khazanah liturgi yang agung dalam Gereja Katolik. Dalam Konsili Konstitusi Liturgi 120 dinyatakan bahwa:
“Dalam Gereja Latin organ pipa hendaknya dijunjung tinggi sebagai alat musik tradisional, yang suaranya mampu memeriahkan upacara-upacara Gereja secara mengagumkan, dan mengangkat hati umat kepada Allah dan ke sorga.
Keagungan suara organ pipa secara natural dipengaruhi sumber bunyinya, yakni tiupan pada mulut tabung (pipa). Ada 2 macam pipa mulut tabung: pertama, pipa labial (Seruling recorder), yakni pipa yang ujungnya kosong di mana bunyi dihasilkan oleh getaran udara pada ‘bibir’ pipa (Latin: labia). Kedua, pipa lingual (Trompette, Fagotte, Brass), yakni pipa yang ujungnya (bagian yang ditiup) dilengkapi dengan ‘lidah’ (Latin: lingua). Pada saat pipa ditiup, lidah ini bergetar dan menghasilkan suara yang kemudian diperkeras oleh pipa. Di antara kedua pipa ini, pipa labial mempunyai variasi suara yang lebih kaya daripada pipa lingual. Suara pipa lingual lebih keras dan lebih kasar daripada pipa labial. Biasanya, pipa lingual digunakan untuk permainan instrumental solo, dan jarang untuk mengiringi nyanyian umat, kecuali pada kesempatan tertentu, bila semua register yang lain dinilai kurang keras.
Sejak abad XX orang menemukan organ elektronik, yaitu organ yang dihasilkan dari getaran elektronis yang diperkeras melalui amplifier dan Loudspeaker. Banyak orang menganggap bahwa suara organ pipa (orgel) lebih alami dan menyentuh perasaan peribadatan. Maka gereja-gereja di Eropa yang semula mencoba organ elektronik, sesudah beberapa waktu kembali menggunakan Organ Pipa.
Ada pun jenis organ elektronik yang cocok digunakan sebagai organ gereja, dengan beberapa kategori antara lain memiliki keyboard berukuran 4 sampai dengan 5 Oktaf, memiliki pedal (pedal Spanyol sebagai pedal bas yang dimainkan dengan kaki) dengan ukuran minimal 1 oktaf. Kehadiran jenis organ gereja yang menggunakan energi listrik juga memiliki warna yang tidak jauh berbeda dengan suara organ pipa asli. Kesan dan nuansa yang ditimbulkan tidak jauh berbeda. Yang penting untuk diperhatikan adalah keterampilan organis untuk mengiringi sebuah perayaan liturgis. Dalam Instruksi Musik Liturgi nomor 62 dikatakan bahwa alat musik dapat menjadi sangat bermanfaat dalam perayaan-perayaan kudus, entah untuk mengiringi nyanyian, entah untuk dimainkan sendiri sebagai musik instrumental tunggal.

3.5.2. Alat-alat Musik Lain

Selain organ pipa alat musik lain dalam liturgi Gereja Katolik dimungkinkan juga sejauh dapat diselaraskan dengan jiwa liturgi. Hal ini diungkapkan lebih lanjut dalam nomor 120 Konstitusi Liturgi:
“Akan tetapi, menurut kebijaksanaan dan dengan persetujuan pimpinan gerejawi setempat yang berwenang, sesuai dengan kaidah artikel 22 (2), 37 dan 40, alat-alat musik lain dapat juga dipakai dalam ibadat suci, sejauh memang cocok atau dapat disesuaikan dengan penggunaan dalam Liturgi, sesuai pula dengan keanggunan gedung gereja, dan sungguh membantu memantapkan penghayatan Umat beriman”.

Anjuran Konsili Vatikan II di atas, sesunggunya telah memberikan gambaran yang tegas tentang syarat utama dalam pemakaian jenis-jenis alat musik lain dalam liturgi, yakni selaras dengan jiwa liturgi. Maka, baik organis maupun pemain alat musik tardisional dalam liturgi sangat diharapkan memiliki kecakapan untuk memainkan alat musiknya secara liturgis, guna memperkaya perayaan suci dan mendorong keikutsertaan kaum beriman dalam melagukan nyanyian liturgi.

3.6. Pertimbangan Musik Liturgi

Dari keseluruhan gagasan Konsili Vatikan II tentang musik liturgi dalam Konstitusi Liturgi bab keenam, dapat ditemukan tiga pertimbangan mendasar dalam musik liturgi. Pertimbangan-pertimbangan tersebut antara lain pertimbangan musik, pertimbangan liturgi dan pertimbangan pastoral.

3.6.1. Pertimbangan Musik

Dalam artikel 112 Konstitusi Liturgi dinyatakan bahwa tradisi musik Gereja semesta merupakan kekayaan yang tak terperikan nilainya, lebih gemilang dari ungkapan-ungkapan seni lainnya dan bahwa musik Liturgi semakin suci, bila semakin erat hubungannya dengan upacara ibadat, entah dengan mengungkapkan doa-doa secara lebih mengena, entah dengan memupuk kesatuan hati, entah dengan memperkaya upacara suci dengan kemeriahan yang lebih semarak. Gagasan ini menyatakan bahwa dalam sejarah Gereja, musik liturgi memiliki mutu kesenian yang tinggi. Mutu tersebut tidak terlepas dari bobot estetika baik dari segi melodi, harmoni (keserasian akor), iringan, syair, penjiwaan dan teknik bernyanyi. Oleh karena itu dalan pertimbangan musik, sebuah musik liturgi dituntut untuk memiliki mutu (kualitas) musikal yang baik. Perhatian serius akan tuntutan ini akan mendukung tujuan dasariah musik liturgi itu sendiri, sebagaimana yang terungkap dalam Konstitusi Liturgi 112 yakni ’kemuliaan Allah dan pengudusan umat beriman”.


3.6.2. Pertimbangan Liturgi

Dalam pertimbangan ini musik liturgi dituntut untuk mengikuti norma liturgi, seperti memiliki keselarasan dengan tahun liturgi, tema perayaan dan bagian-bagian dalam liturgi. Hal ini sesuai dengan amanat Konsili Vatikan II dalam Konstitusi Liturgi 112, yaitu bahwa Gereja menyetujui segala bentuk kesenian yang sejati, yang memiliki sifat-sifat menurut persyaratan Liturgi dan mengizinkan penggunaannya dalam ibadat kepada Allah. Selain itu dalam pertimbangan liturgi, musik liturgi dituntut untuk mendukung partisipasi umat. Konsili Vatikan II, melalui Konstitusi Liturgi 113 menggagas bahwa upacara Liturgi menjadi lebih agung, bila ibadat kepada Allah dirayakan dengan nyayian meriah, bila dilayani oleh petugas-petugas Liturgi, dan umat ikut serta secara aktif. Oleh karena itu, sebagaimana liturgi merupakan perayaan seluruh umat dalam kesatuan tubuh Gereja, maka musik liturgi harus dapat mendukung partisipasi umat dalam menghayati iman, memuliakan Tuhan serta merasakan pengudusan, penyelamatan dan kesatuan di dalam-Nya. Pertimbangan liturgi adalah suatu aspek penting untuk diwujudkan sebab pada hakekatnya musik liturugi adalah bagian yang terintegral dalam liturgi.

3.6.3. Pertimbangan Pastoral

Di sini, musik liturgi dituntut untuk dapat mempertimbangkan kemampuan umat, kategori umur, situasi dan sensus religius. Maka musik liturgi harus memilki kepekaan terhadap cita rasa dan kemampuan umat dalam menghayati serta mengungkapkan imannya. Selain itu, menurut pertimbangan pastoral, musik dalam liturgi juga harus dapat disesuaikan dengan konteks kebudayaan (tradisi) yang dihidupi umat. Di sinilah terbuka kemungkinan bagi Gereja untuk menggali khazanah musik daerah sehingga dapat digunakan dalam perayaan liturgi. Pertimbangan ini berkaitan dengan artikel 119 Konstitusi Liturgi, yang menyatakan bahwa musik dalam tradisi hendaknya mendapat penghargaan selayaknya dan tempat yang sewajarnya, baik dalam membentuk sikap religius umat beriman, maupun dalam menyelesaikan ibadat dengan sifat-perangai mereka. Dengan pertimbangan pastoral inilah maka musik liturgi inkulturasi dianggap penting untuk ditumbuhkembangkan dalam Gereja Lokal.
Akan tetapi perlu dipahami, bahwa ketiga pertimbangan musik liturgi di atas harus memiliki keterikatan satu sama lain. Artinya sebuah musik liturgi dinyatakan layak untuk dibawakan dalam perayaan liturgi, jika dapat memenuhi secara seimbang ketiga tuntutan, yakni bahwa musik tersebut baik secara musikal, sesuai dengan jiwa liturgi dan selaras dengan cita rasa serta daya apresiasi umat.

3.7. Kesimpulan

Musik liturgi dalam terang Konsili Vatikan II adalah bagian integral dari liturgi. Ia adalah musik yang sakral dan dijunjung tinggi dalam Gereja Katolik. Sebagai sebuah musik yang sakral, ia dibentuk sedemikian melalui berbagai kaidah-kaidah yang tepat untuk menjadikannya musik yang sesuai dengan liturgi yang kudus.
Untuk menopang hakekat musik liturgi sebagai bagian integal dari liturgi, maka dalam terang Konsili Vatikan II musik liturgi memiliki berbagai dimensi, tujuan dan pertimbangan, dan bentuk (jenis) musik liturgi, baik jenis nyanyian maupun instrumen musik liturgi. Beberapa hal tersebut pada dasarnya bertujuan untuk mengindahkan jati diri musik liturgi itu sendiri sebagai musik yang memiliki bobot kudus (nilai sakral) karena ia terintegral dalam liturgi sebagai sebuah perayaan yang kudus. Dengan demikian berbagai unsur yang sudah digambarkan merupakan dasar terwujudnya apresiasi musik liturgi dalam Gereja Katolik.

IV. MEMBANGUN APRESIASI MUSIK LITURGI DI TENGAH PENGARUH PROGRESI MUSIK POP DEWASA INI


Konstitusi Liturgi Konsili Vatikan II telah membuka suatu horison baru tentang hakekat musik liturgi. Musik liturgi dipandang sebagai bagian integral (pars integralis) dari liturgi. Gagasan ini kiranya menjadi prinsip dasar bagi praktek dan penghayatan musik liturgi hingga saat ini. Artinya, berbagai kreativitas dalam upaya mengembangkan musik liturgi harus senantiasa berjalan dalam jalur yang sesuai dengan kaidah-kaidah liturgi itu sendiri.
Namun dalam kenyataan dewasa ini, apresiasi terhadap corak dasariah musik liturgi mengalami kemerosotan. Banyak kalangan memasukkan musik yang bercorak pop (profan) ke dalam perayaan liturgi Gereja. Hal ini menunjukkan minimnya pemahaman umat akan nilai dan makna musik liturgi yang semestinya diwujudkan dalam liturgi.
Oleh karena itu, menjunjung tinggi citra musik liturgi adalah hal yang penting, ketika perkembangan musik pop semakin progresif menguasai selera zaman ini. Prinsip dasar tentang pentingnya memelihara corak musik liturgi adalah kekayaan nilai dan historisitas musik liturgi itu sendiri, sebagaimana yang terungkap dalam Konsili Vatikan II.

4.1. Pengaruh Progresi Musik Becorak ’Pop’ (Profan) dalam Liturgi

Progresi ‘pengepopan’ musik liturgi merupakan suatu wujud progresi kreativitas pasca Konsili Vatikan II. Hal ini terjadi oleh karena anjuran untuk mewujudkan inkulturasi seringkali disalahtafsirkan sebagai sebuah bentuk kreativitas yang bebas seturut selera kelopok atau pun perorangan. Atas fakta ini, Kardinal Arinze dalam sambutannya pada Pertemuan Nasional Federasi Komisi Liturgi Keuskupan se-Amerika Serikat di Chicago, mengatakan: “Adalah berbahaya kalau sejumlah orang berpikir bahwa inkulturasi liturgi mendorong kreativitas yang serba bebas dan tak terkendali. Mereka membayangkan bahwa menurut Konsili Vatikan II tindakan progresif, modern dan cemerlang yang harus dilakukan dalam perayaan liturgi adalah menjadi kreatif, original, serba baru, berani bertindak sendiri. Paus Yohanes Paulus II menulis: “Harus diratapi, khususnya pada tahun-tahun yang menyusul pembaruan liturgi pasca konsili, bahwa sebagai akibat dari cita kreativitas dan penyesuaian yang salah arah, telah terjadi sejumlah penyimpangan yang menyebabkan derita bagi banyak orang.....””. Progresi musik pop dalam liturgi adalah salah satu bentuk kreativitas yang salah arah.
Namun, patut disadari bahwa kreativitas yang terkesan bebas dan progresif demikian, tidak terlepas dari pengaruh globalisasi yang membentuk suatu homogenitas budaya pop. Tidak mengherankan jika pada zaman sekarang terdapat kecenderungan umat untuk mewarnai ‘musik Gereja’ dengan berbagai bentuk aransemen dan iringan bercorak pop.
Di lain pihak, pengepopan musik liturgi dalam Gereja Katolik juga dipengaruhi oleh pengaruh gaya peribadatan kelompok Karismatik dalam Gereja Katolik yang sangat progresif dalam memakai khazanah pop dalam liturgi. Kelompok tersebut memakai corak musik profan seperti ballad, rock, jazz dan sebagainya, tanpa mempertimbangkan nilai liturgis, tradisi dan berbagai kelaziman di Gereja Katolik. Dengan itu, misa karismatik cenderung bersifat meriah, ramai dan hura-hura.
Dengan pengaruh perkembangan zaman dan arus globalisasi, perayaan liturgi yang diwarnai oleh musik-musik rohani profan, seakan menjadi suatu kebiasaan yang dianggap lumrah. Umat Katolik di Katedral St. Petrus dan Paulus Ulaanbaatar Mongolia misalnya, gemar menyanyikan lagu-lagu yang digubah namun diilhami oleh lagu-lagu rock Amerika dan Barat. Atau di Keuskupan Agung Jakarta misalnya, saat ini telah beredar satu buku nyanyian liturgi yang banyak memuat lagu-lagu pop rohani yakni buku Kidung Syukur. Salah satu contoh lagu pop yang diadopsi menjadi nyanyian liturgi adalah lagu ”You Raise Me Up” (Kidung Syukur Nomor 508). Pengadopsian corak musik pop ke dalam musik liturgi, merupakan suatu pemerosotan penghayatan musik liturgi.

4.2. Beberapa Upaya Membangun Apresiasi Musik Liturgi di tengah Pengaruh Progresi Musik Pop Dewasa ini

Makna dan seluk-beluk musik liturgi yang telah duraikan berdasarkan tinjauan Konsili Vatikan II, memberikan suatu tekanan bahwa musik liturgi adalah musik sakral gereja Katolik yang harus dijunjung tinggi. Ia mengandung dimensi-dimensi yang mengangkatnya sebagai musik yang sakral. Maka, uraian tentang hakekat musik liturgi dalam terang konsili Vatikan II, merupakan pendasaran utama bagi apresiasi musik liturgi di tengah tantangan progresi musik pop dewasa ini.
Dalam upaya apresiasi tersebut, suatu semangat yang kiranya perlu diwujudkan adalah kesetiaan kreatif. Istilah ini pada dasarnya merupakan term filosofis yang mula-mula digunakan Gabriel Marcel melalui bukunya: Creative Fidelity. Kesetiaan sejati dalam pandangannya perlu ditampakkan melaui kreativitas, artinya bahwa sebuah kesetiaan mengkreasi diri bertujuan untuk menemukan tuntutan kesetiaan itu sendiri. Term kesetiaan kreatif yang diangkat Gabriel Marcel dalam pergulatan filosofisnya dipakai oleh Gereja Katolik dalam berbagai upaya pembaruan. Paus Benediktus XVI pernah menggunakan term istilah ini dalam sebuah pidatonya yang dibawakan pada tanggal 30 Maret 2006. Dengan ini, kesetiaan kreatif menjadi semakin dikenal dalam Gereja Katolik.
Dalam wacana musik liturgi, salah satu wujud kesetiaan kreatif yang diwujudkan Gereja Katolik adalah adanya inkulturasi musik liturgi. Kesetiaan kreatif ditampakkan dalam upaya mengkreasi kebudayaan lokal dan menyelaraskannya dengan liturgi sehingga dapat membantu kaum beriman dalam setiap kebudayaan supaya dapat menghayati perayan liturgi secara lebih hidup, ekspresif dan kontekstual.
Prinsip kesetiaan kreatif dalam musik liturgi ini, sangat berkaitan erat dengan ketiga bentuk pertimbangan dalam musik liturgi, yang meliputi pertimbangan musik, liturgi dan pastoral, sebagaimana yang telah dijelaskan terlebih dahulu. Dalam pertimbangan musik, hal dasar yang dituntut dari musik liturgi adalah mutu musik itu sendiri baik dari segi melodi, harmoni, pensyairan, dan sebagainya. Kemudian dalam pertimbangan liturgis, sebuah musik liturgi dituntut harus sungguh-sungguh menjiwai perayaan liturgi itu sendiri. Lalu, dalam pertimbangan pastoral, musik dituntut harus dapat disesuaikan dengan latar belakang konteks umat yang bernyanyi. Pertimbangan pastoral ini pula yang membuka kemungkinan untuk menggali khazanah musik daerah, sehingga dapat digunakan dalam perayaan liturgi. Dengan demikian, inkulturasi musik liturgi sesungguhnya telah menjawabi tuntutan-tuntutan tersebut dan merupakan wujud konkrit semangat kesetiaan kreatif.
Akan tetapi, kendati inkulturasi musik liturgi dilihat sebagai musik liturgi yang selaras dengan konteks dan kebudayaan lokal, namun corak musik Gregorian sebagaimana telah diperlihatkan sebagai corak universal musik Gereja Katolik harus tetap dipelihara sebagai corak dasar musik liturgi Gereja Katolik. Baik musik Gregorian maupun musik inkulturasi, masing-masing mempunyai nilai religiositas dan estetika musik yang baik dan sesuai dengan tuntutan dan pertimbangan sebuah musik liturgi. Maka di tengah pengaruh progresi musik pop yang kerap kali masuk ke dalam liturgi, semangat kesetiaan kreatif dalam apresiasi terhadap corak musik liturgi yang telah digagas dalam Konsili Vatikan II, perlu ditumbuhkembangkan demi mengangkat jati diri musik liturgi Gereja yang semestinya. Beberapa upaya praktis yang kiranya perlu diwujudkan, antara lain dengan membangun dan mempertegas perbedaan substansial, antara musik liturgi dan musik pop serta membangun apresiasi terhadap musik inkulturasi sebagai musik liturgi Gereja Lokal dan musik gregorian sebagai musik liturgi Gereja universal.

4.2.1. Memahami Perbedaan Substansial Sifat Musik Liturgi dan Musik Pop

Tidak semua musik yang baik dengan sendirinya menjadi musik liturgi. Sebuah musik liturgi yang baik harus dikaji berdasarkan pertimbangan yang matang dari segi teknik, estetika dan ekspresi, yang selaras dengan tuntutan liturgi. Oleh karena itu, progresi musik bernuansa pop dalam liturgi merupakan hal yang harus dikritisi. Musik pop rohani yang pada dasarnya diciptakan berdasarkan apresiasi musik yang bersifat individual, tidak serta-merta dapat dinyanyikan dalam liturgi.
Adapun kata’pop’ memiliki suatu makna profan dan komersial. Kata tersebut adalah singkatan dari kata ”populer”, dari akar kata bahasa Latin: ‘popularis’, yang artinya ”sesuai untuk rakyat”. Namun kata ini memiliki sebuah arti konotasi yang lain, yaitu “murah”. Dalam dunia global, musik pop rohani muncul sebagai suatu produk yang berada di bawah pengaruh tekanan komersial. Produk ini menjadi suatu paket yang begitu besar karena didorong oleh kemajuan teknologi, sehingga seolah-olah ia menjadi sebuah karya seni yang sebenarnya memiki mutu estetika yang rendah. Hal ini terjadi oleh sebab musik pop tidak harus dibentuk dengan intelektualitas yang tinggi untuk menjadikannya sebuah bangunan musik yang mengandung nilai seni. Yang penting bagi musik pop adalah ’cepat jadi’, notasinya tidak rumit, lirik mudah dimengerti dan irama yang cepat mengena pada sensasi rasa. Sedangkan musik liturgi diciptakan dengan perhatian penuh dan dengan berbagai pertimbangan aspek biblis, teologis, liturgis dan bobot melodi itu sendiri atau singkatnya diciptakan dan dianalisis secara keilmuan.
Perbedaan musik liturgi dan musik pop rohani sangatlah substansial. Ditinjau dari aspek musikal, melodi musik liturgi sifatnya mendukung atau mengabdi pada syair. Akan tetapi dalam musik pop rohani, melodi lagu tidak selalu mendukung syair, sebab yang diutamakan adalah bahwa melodi tersebut dapat menciptakan suasana sentimentil, ringan, kurang menantang dan terkesan enak untuk didengar.
Selain itu, ditinjau dari aspek liturgis; musik liturgi bersifat eklesial-sakral, sedangkan musik pop rohani bersifat individual-profan. Artinya, musik liturgi selalu dinyanyikan bersama-sama dengan umat yang hadir (eklesial) dan dalam perayaan liturgi suci (sakral) alat musik liturgi harus sunggguh-sungguh mampu menjunjung tinggi nilai kesakralan sebuah perayaan Gereja. Sedangkan musik pop rohani dibawakan sebagai nyanyian solo (maka ada biduan atau artisnya), dan merupakan musik hiburan praktis di luar peribadatan. Sifat profan dari musik ini diciptakan karena sifatnya yang ringan, sesuai selera massal (ngetrend), dan menghindari kepadatan isi syair (teologi, biblis).
Selanjutnya, berdasarkan dasar penciptaannya, musik liturgi pada hakekatnya merupakan golongan musik seni, yaitu musik yang diciptakan untuk keindahan musik itu sendiri. Dengan kata lain musik jenis ini mengutamakan aspek estetika dalam pengapresiasiannya. Ia bahkan tidak mempedulikan aspek ekonomis demi suatu keuntungan hidup, melainkan lebih memperhatikan nilai seni yang ‘pada hakekatnya’ sulit disandingkan dengan uang maupun harta benda. Sedangkan musik pop merupakan jenis musik programatis, yaitu musik yang dirancang dengan bantuan keyboard listrik yang memiliki program ritmis yang statis. Musik tersebut kurang bersifat natural meskipun menghasilkan musik yang indah dan seringkali hanya mengutamakan kepentingan ekonomi. Misalnya musik untuk tarian pesta yang laris dijual di pasaran. Biasanya musik yang demikian bersumber dari cerita kehidupan harian yang diungkapkan dengan bentuk bahasa yang sederhana (tidak mengikuti aturan pensyairan seperti dalam musik seni).
Ada pun perbedaan musik liturgi dan musik pop rohani, terdapat dalam pola iringan musik instrumen. Pola iringan bergaya pop pada umumnya bersifat improvisatif khususnya dalam pemakaian istrumen keyboard yang menggunakan program ’ritme statis’ . Sedangkan pola iringan organ dalam musik liturgi memiliki sifat natural dan memiliki kesan sakral dari suaranya yang agung, sebagaimana yang telah mewarnai liturgi Gereja Katolik sejak zaman dahulu kala. Dalam Pedoman Umum Misale Romawi nomor 313 digagaskan bahwa organ yang dipakai sebagai alat musik liturgi selayaknya diberkati sebelum digunakan dalam Gereja, seturut tata cara yang diwariskan dalam ritus romawi. Oleh karena itu, sebagai sarana musik yang disucikan secara ritual hendaknya diapresiasikan sesuai dengan tujuan perayaan liturgi sebagai sebuah karya bakti demi kemuliaan Allah dan pengudusan manusia, melalui suatu tindakan (aksi) nyata, termasuk dalam pola iringan musik organ secara natural.
Konsili Vatikan II melalui Konstitusi Liturgi 120 telah menganjurkan untuk menjunjung tinggi organ pipa sebagai instrumen musik dalam sejarah tradisi liturgi Gereja sebab suara musik tersebut sangat berkesan agung sehingga mampu memeriahkan upacara-upacara Gereja secara mengagumkan serta mengangkat hati umat kepada Allah. Anjuran ini secara implisit menyatakan tentang naturalitas iringan musik instrumen organ dalam liturgi. Maka pemakaian ritme statis yang bercorak pop dalam liturgi merupakan pertentangan terhadap citra musik liturgi. Selain itu, arti liturgi sebagai sebuah ’karya bakti’ memberikan penekanan bahwa liturgi merupakan sebuah ’tindakan’. Maka, selayaknya pola iringan yang natural lebih memiliki nilai liturgis, jika dibandingkan dengan pola iringan buatan pada penggunaan program ’ritme statis’ pada insrumen musik keyboard listrik.
Dalam bukunya “Misi Musik”, Winnardo Saragih mengatakan bahwa musik dalam ibabat yang memiliki muatan yang baik akan dapat mempengaruhi keimanan seseorang, di mana musik dinilainya mampu untuk menobatkan setiap orang. Oleh karena itu, sebuah musik ibadat, entah melalui nyanyian maupun iringan musik, harus memiliki muatan yang cocok sebagai musik doa sehingga dapat memperlihatkan jati dirinya yang sejati di antara aliran-aliran musik lain yang berkembang dalam dunia musik dewasa ini. Hal ini dirasa perlu ditekankan dalam praksis pastoral liturgi Gereja Katolik, agar nilai khidmat, solemnitas, sakralitas maupun historisitas musik liturgi Gereja Katolik tetap dijunjung tinggi martabatnya sebagaimana yang digagaskan oleh Konsili Vatikan II.


4.2.2. Mengupayakan Apresiasi Terhadap Musik Inkulturatif


Meskipun dalam pertimbangan pastoral menekankan bahwa musik liturgi harus dapat disesuaikan dengan kemampuan dan cita rasa umat yang bernyanyi, namun hal ini tidak dimaksukan agar jenis-jenis musik diatur menurut selera dan cita rasa umat semata. Sebuah pertimbangan atau pertimbangan pastoral terhadap musik liturgi, harus selalu terikat pada pertimbangan liturgi dan pertimbangan musik.
Oleh karena itu, sebagai upaya mewujudkan cita rasa musik yang selaras ketiga pertimbangan tersebut, Konsili Vatikan II telah menganjurkan adanya upaya inkulturasi musik-musik kebudayaan lokal ke dalam musik liturgi. Romo Karl Edmund Prier, seorang iman Serikat Yesus dan etnomusikolog yang berpastoral dalam musik liturgi di Indonesia, menyatakan bahwa musik etnik sebagai musik ritual tradisional dianjurkan Konsili Vatikan II untuk diinkulturasikan sebagai musik liturgi, karena ia mengandung kekayaan nilai yang bersifat religius dan filosofis dalam konteks kebudayaan tradisional setiap daerah. Di Indonesia, lagu-lagu daerah Jawa misalnya, terkesan mampu menghipnotis jiwa umat yang mendengarnya jika dipadukan dengan iringan gamelannya. Begitupun musik Timor, dengan iringan sasando, dan berbagai musik etnik di Indonesia yang justru dapat menjadi sarana dalam menjalin hubungan manusia dan Tuhan dalam liturgi.
Pater Anton Sigoama Letor, SVD dalam bukunya “Komposisi Lagu Menuju Musik Liturgi” menyatakan bahwa lagu-lagu daerah adalah sumber alamiah yang kuat bagi terciptnya lagu-lagu seni. Oleh karena itu, bukanlah suatu kebetulan bahwa dalam menghasilkan karya kesenian musik, para ahli menggunakan unsur-unsur yang langsung berasal dari musik tradisional. Jika kita menengok ke sejarah gereja, upaya menggali budaya tradisional untuk inkulturasi musik gereja bukanlah sudah diwujudkan sejak abad pertama, di mana gereja purba yang tersebar di Eropa membawakan Mazmur dengan corak lagu kebudayaan Yunani. Selain itu, seluruh perkembangan musik polifoni Eropa merupakan hasil inkulturasi, yakni hasil interaksi antara lagu Gregorian dengan tradisi musik di Eropa Utara. Martin Luther dan Johann Sebastian Bach misalnya, telah mengadaptasi lagu rakyat untuk dijadikan nyanyian ibadat.
Di tengah progresi dan kegemaran umat (termasuk kelompok Gerakan Karismatik) untuk menyanyikan nyanyian bergaya pop dalam liturgi, kiranya apresiasi terhadap musik liturgi inkulturatif harus ditumbuhkembangkan. Selera musik ritmik dalam liturgi dapat diapresiasikan dalam musik liturgi inkulturatif. Hal ini digagaskan Paul Widyawan, dalam Warta Musik Liturgi, bahwa inkulturasi musik liturgi perlu dikembangan dalam berbagai budaya ketimuran, khususnya menjawabi kebutuhan selera ritmik dalam musik liturgi, serta selaras dengan kemampuan dan cita rasa umat dalam setiap kebudayaan. Di Indonesia, musik liturgi inkulturatif bermotif Batak Toba (Sumatra Utara) dan Ngada (Flores) misalnya, memiliki ciri khas musiknya yang diwarnai oleh bentuk quasi mayor (do re mi fa sol) dengan alat musik tradisional yang khas memiliki nuansa ritmis yang menciptakan suasana riang gembira. Hal ini selaras dengan cita rasa dan kejiwaan masyarakat Batak dan Ngada yang penuh semangat. Maka, adalah baik jika dalam liturgi umat menginginkan adanya musik yang bernuansa ritmik, semarak, dan riang gembira, nyanyian inkulturatif yang dari musik-musik etnik yang bernuansa ritmik perlu diapresiasikan dan bukannya dengan mengadopsi nyanyian yang bercorak pop (profan).
Persoalan perlunya inkulturasi musik liturgi di tengah pengaruh selera pop dalam liturgi, berkaitan pula dengan naturalitas iringan instrumen musik. Iringan instrumen musik inkulturatif pada hakekatnya memiliki kesesuaian dengan jiwa liturgi, oleh karena sifatnya yang natural. Maka penggunaan rhytm box dalam liturgi adalah tindakan yang bertentangan dengan tuntutan liturgis. Larangan penggunaan iringan musik pop, (seperti pemakaian rythm box), secara implisit telah ditegaskan dalam Instruksi Musik Liturgi nomor 63, yang menyatakan bahwa: ”alat-alat musik yang menurut pendapat dan kebiasaan umum hanya cocok untuk musik profan, harus dilarang dalam setiap perayan liturgis dan ibadat-ibadat yang populer”. Anjuran ini memperjelas maksud Gereja tentang alat-alat musik lain dalam artikel 120 Konstitusi Liturgi, yakni alat-alat musik yang ada dalam tradisi atau kebudayaan. Maka tidak mengherankan bahwa Gereja Katolik di Indonesia mewujudkan instruksi tersebut dalam praktek liturginya antara lain dengan menginkulturasikan musik orkes gamelan di Jawa Tengah, orkes gondang di Batak, Kolintang di Sulawesi Utara, Angklung di Jawa Barat, Suling di Flores dan Timor, gong di Sumba dan sebagainya. Suasana yang ditimbulkan masing-masing instrumen sangat khas dan beragam. Di sana dapat ditemukan nilai-nilai musikal yang tidak kalah indahnya dengan nilai-nilai musikal warisan Gereja Eropa.
Oleh karena itu, di tengah kebutuhan akan musik dalam liturgi yang sesuai dengan cita rasa kebudayaannya, di sinilah sesungguhnya Konsili Vatikan II telah megagaskan pertimbangan pastoral dalam musik liturgi, yaitu dengan menganjurkan upaya inkulturasi musik dari kebudayaan lokal ke dalam musik liturgi. Dengan demikian, melalui inkulturasi Gereja telah membangun sebuah khazanah musik liturgi yang kontekstual, yang menyapa berbagai kebudayaan daerah.


4.2.3. Membangun Apresiasi terhadap Nyanyian Gregorian


Salah satu tujuan musik liturgi adalah untuk memupuk kesatuan umat (Gereja). Sifat kesatuan ini, dapat diwujudkan dengan mengangkat jenis musik (nyanyian) yang bisa dilagukan semua umat beriman dalam setiap perayaan liturgi. Lebih dari itu, secara lahiriah sifat kesatuan yang menjadi tujuan musik liturgi, kiranya perlu diwujudkan secara universal, yakni dengan membangun pula apresiasi terhadap musik liturgi yang bercorak universal. Satu-satunya jenis musik liturgi yang merupakan ciri khas musik dalam ritus liturgi Romawi, dan yang telah diwariskan sejak beratus-ratus abad yang silam adalah nyanyian Gregorian.
Di tengah progresi pengepopan musik liturgi, salah satu upaya membangun citra dan kesejatian musik liturgi Gereja, adalah dengan membangun apresiasi terhadap nyanyian Gregorian sebagai corak dasar musik liturgi. Hal ini perlu menjadi prinsip yang perlu dibangun dalam apresiasi musik liturgi Gereja Katolik, sebagaimana yang digagaskan dalam Pedoman Umum Misale Romawi nomor 41, bahwa “..meskipun semua nyanyian sama, nyanyian Gregorian merupakan ciri khas liturgi Romawi yang hendaknya diberi tempat yang utama...”.
Namun, sejak Konsili Vatikan II membuka pintu bagi adanya kreativitas dalam musik liturgi, perlahan-lahan apresiasi terhadap nyanyian Gregorian semakin surut. Di Indonesia, salah satu bentuk pengutamaan terhadap nyanyian inkulturasi yang seakan mengabaikan nyanyian gregorian tampak dalam penerbitan Buku Madah Bakti Edisi 2000. Dalam terbitan edisi ini, lagu-lagu ordinarium Gregorian telah dihilangkan, dan digantikan dengan berbagai motif nyanyian inkulturasi. Progresivitas dalam inkulturasi yang demikian, merupakan tindakan yang bertentangan dengan amanat Konsili Vatikan II yang menghendaki nyanyian Gregorian sebagai ciri universal musik liturgi Gereja Katolik sejagat.
Dalam menggagas upaya membangun apresiasi terhadap nyanyian Gregorian, penulis mengangkat gagasan Paus Benediktus XVI dalam dekrit Sacramentum Caritatis (Sakramen Cinta Kasih) yang dikeluarkan pada tanggal 13 Maret 2007. Dalam dekrit tersebut, Paus menghimbau umat Katolik sedunia untuk kembali membangun apresiasi terhadap musik Gregorian sebagai warisan perbendaharaan tradisi Gereja sejak ribuan tahun yang silam.
Melalui dekrit ini, Paus Benediktus XVI menyatakan keprihatinannya bahwa dewasa ini banyak Gereja di Asia yang terlalu memusatkan perhatian pada proyek inkulturasi musik liturgi dan melupakan musik Gregorian sebagai khazanah universal. Dalam artikel 42 dekrit Sacramentum Caritatis, Paus Paus Benediktus XVI menganjurkan agar lagu Gregorian digunakan secara memadai sebagai nyanyian liturgi Roma. Mempelajari kesederhanaan dan keindahan lagu Gregorian yang agung itu secara menyeluruh, menururt Sri Paus akan juga membuat umat, para imam dan seminaris yang berbakat musik mendapat inspirasi dalam menggubah bentuk-bentuk lagu yang agung dan penuh doa yang dapat diselaraskan secara lebih baik dengan kebudayaan lokal. Dengan demikian, sebuah kesadaran dalam Gereja Katolik bahwa nyanyian Gregorian sebagai musik liturgi berkembang dalam sejarah tradisi liturgi Gereja Katolik perlu dihidupkan kembali dalam liturgi dewasa ini sebagai salah satu upaya untuk memupuk nilai kesatuan universal dalam liturgi Gereja Katolik. Oleh karena itu, upaya memelihara khazanah musik Gregorian dalam liturgi dewasa ini dapat diwujudkan, setidaknya melalui tiga prinsip. Pertama, sebagai orientasi: artinya nyanyian Gregorian sebagai nyanyian Gereja berabad-abad dan terbukti mampu mengungkapkan dimensi transenden merupakan pedoman bagi pengembangaun musik liturgi lain, tanpa menjadi nyanyian yang dominan. Kedua, sebagai variasi: artinya, nyanyian Gregorian dibutuhkan sebagai variasi nyanyian inkulturasi untuk menciptakan kesegaran berliturgi. Ketiga, sebagai tantangan, artinya jangan sampai nyanyian Gregorian menghilang, atau jangan sampai generasi muda tidak lagi mengenal lagu tradisional ini.
Penekanan tentang aspek-aspek tersebut perlu diperhatikan sebagaimana yang diharapkan Paus Benediktus XVI, yang pada hakekatnya melanjutkan semangat Konsili Vatikan II dalam Konstitusi Liturgi 116 dan 119 sebagai sebuah dasar prinsip bagi kesetiaan kreatif. Suatu upaya membangun penghayatan yang sinergis terhadap makna kesatuan universal dengan penghayatan iman yang kontekstual. Dengan sinergisitas yang demikian, niscaya kita dapat merayakan liturgi baik secara terpisah dalam setiap Gereja lokal maupun secara bersama dalam kesatuan Gereja universal, tanpa merasa asing di dalamnya. Pedoman Umum Misale Rowawi nomor 41 menyatakan bahwa ”...dewasa ini, di tengah himpunan jemaat dari bermacam-macam bangsa, diharapkan sekurang-kurangnya umat mahir untuk melagukan bersama-sama nyanyain ordinarium dalam Bahasa Latin....”.
Semangat kesetiaan kreatif terhadap nilai dan kazanah Gereja universal dan Gereja lokal pada gilirannya membangun sebuah keseimbangan yang sepantasnya dalam musik liturgi, yakni bahwa di satu pihak, suatu semangat keterbukaan yang sehat untuk inkulturasi dalam liturgi tetap terpelihara, dan di pihak lain perlunya melindungi ciri universal liturgi Katolik, sebuah perbendaharaan yang diwariskan kepada Gereja oleh tradisinya yang sudah berusia dua ribu tahun. Dengan usaha inilah maka musik liturgi dapat terejawantahkan sebagai simbol yang mengungkapkan nilai kekayaan pengalaman estetis religius umat Katolik dalam liturgi sebagai suatu perayaan untuk memuliakan Allah dan menguduskan Gereja, hingga menggapai kesempurnaannya dalam liturgi surgawi.








4.3. Kesimpulan

Pemahaman akan corak musik liturgi dalam terang Konsili Vatikan II, adalah pedoman arah bagi apresiasi musik liturgi di tengah pengaruh progresi selera musik bercorak pop dalam perayaan liturgi dewasa ini. Dengan membangun apresiasi terhadap corak musik liturgi yang dianjurkan Konsili Vatikan II, maka sesungguhnya identitas musik liturgi akan semakin diperjelas. Kejelasan identitas dalam musik liturgi, secara tidak langsung juga akan memperjelas kesejatian jati diri Gereja Katolik itu sendiri. Maka, adalah penting bagi Gereja, untuk menyadari hakekat dan seluk beluk musik liturgi yang semestinya diwujudkan dalam liturgi Gereja. Niscaya, dengan membangun apresiasi musik liturgi yang berkesinambungan, apapun bentuk progresi musik pop dalam dunia profan tidak akan dengan mudah masuk dalam liturgi, sebab Gereja menyadari apa yang telah menjadi kekhasannya.
Akhirnya, berbagai bentuk musik dan nyanyian yang digunakan dalam liturgi hendaknya mempertimbangkan nilai simbolis musik liturgi, khususnya dalam mengungkapkan ketiga dimensi dan tujuan musik liturgi dalam terang Konsili Vatikan II. Dengan itu, sebagai sebuah simbol dalam liturgi, musik liturgi dapat menjadi suatu sarana yang mengantar umat kepada panghayatan iman akan misteri Keselamatan yang dirayakan dalam Gereja.






V.PENUTUP

5.1. Kesimpulan Umum

Makna musik dalam hidup rohani manusia, hampir dirasakan dan dihayati oleh semua agama. Banyak agama menghayati musiknya sebagai pengungkapan iman kepada ’Yang Transenden’. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa musik, bagi kehidupan manusia religius, memiliki sebuah nilai kerohanian (spritual). Hal ini selaras dengan gagasan St. Agustinus, yang mengatakan bahwa “eksistensi musik sejati bukan berarti suatu eksistensi yang material atau yang bersifat panca indera saja, melainkan seuatu eksistensi yang bersifat rohani”. Bunyi atau suara musik yang dirasakan secara fisik (inderawi), meyingkap sesuatu aspek yang bersifat ‘rohani’ di balik bunyi itu. Dengan itulah musik sangat berelasi erat dengan unsur kejiwaan atau kebatinan manusia.
Sebagai sarana yang dapat mengungkapkan dimensi kebatinan, musik sangat bermakna dalam Gereja Katolik, sehingga menjadikannya sebuah simbol religius dalam liturgi Gereja. Gagasan Konsili Vatikan II, telah mengangkat suatu prinsip tentang musik liturgi sebagai musik yang memiki sifat kudus. Sebagai sesuatu yang sakral, musik liturgi dibentuk dengan berbagai pertimbangan yang dapat menjadikannya bermutu sebagai simbol untuk merayakan keselamatan dalam liturgi.
Oleh karena itu, berbagai prinsip tentang musik liturgi dalam terang Konsili Vatikan II, merupakan sebuah pedoman arah bagi penghayatan simbol musik dalam liturgi. Hal ini menjadi sangat urgen, ketika dewasa ini terdapat kecenderungan umat membawakan berbagai corak musik lain yang bernuansa profan ke dalam liturgi. Dengan memahami persolaan ini, berbagai upaya untuk kembali mengangkat citra musik liturgi kiranya perlu dibangun, dijaga dan dilestarikan.
Inilah ikhtiar penulis, bahwa kendati dengan perkembangan zaman corak musik-musik bernuansa pop telah mampu memikat perhatian manusia dan laris di dunia ’pasaran’, musik liturgi harus tetap mempertahankan nilai dan kekhasan coraknya. Oleh karena itu, membangun citra musik liturgi melalui semangat kesetiaan kreatif dalam liturgi merupakan sebuah harapan yang tiada henti untuk diupayakan.
Akhir kata, semoga dengan mewujudkan musik liturgi yang selaras dengan harapan Gereja melalui Konsili Vatikan II, dapat menjadikan musik liturgi Gereja kekayaan nilai yang luhur, serta menjadi suatu media pengalaman estetis religius umat beriman. Suatu komunikasi manusia beriman dengan Allah yang hadir dalam perayan liturgi dapat diwujudkan secara mendalam, melalui pengalaman estetis religius tersebut. Dengan itu, ungkapan St. Agustinus bahwa “bernyanyi dengan baik adalah berdoa dua kali” akan senantiasa menjadi fakta pengalaman estetis religius umat Katolik dalam liturgi.

5.2. Usul Saran

Pelestarian corak musik liturgi, merupakan sebuah upaya yang tentunya perlu dilaksanakan secara konkrit. Oleh karena itu, beberapa usul saran berikut kiranya berguna bagi upaya membangun citra musik liturgi Gereja Katolik.
Pertama, bagi petugas musik liturgi, hendaknya memiliki pengetahuan yang mendasar tentang liturgi. Pemahaman tentang liturgi inilah yang dapat menopang pemahaman para petugas liturgi Gereja, untuk tidak serta-merta berkreasi secara progresif, khususnya dalam menentukan musik yang sesuai untuk liturgi.
Kedua, adanya indikasi profanisasi musik liturgi dalam Gereja, menjunjukkan kurangnya perhatian (pemahaman) para imam dewasa ini terhadap musik liturgi. Maka, Gereja harus memperhatikan pendidikan musik liturgi bagi para calon imam, sebagaimana secara eksplisit digagaskan dalamn artikel 115 Konstitusi Liturgi tentang pentingnya pendidikan musik liturgi di seminari-seminari dan novisiat. Sebagaimana, sebuah pendidikan pada hakekatnya bertujuan untuk membuka pemahaman, maka urgensi pendidikan musik liturgi bagi calon imam adalah penting. Meskipun, dapat dikatakan kurang berbakat dalam musik, sebagai seorang calon imam, pemahaman akan nilai dan prinsip-prinsip tertentu tentang musik liturgi harus dimilikinya. Dengan pengetahuan itulah, seorang imam dapat memperhatikan dan menilai praktek musik liturgi dalam karya pastoral di tengah umat.
Ketiga, mengingat nyanyian Gregorian adalah nyanyian khas liturgi Romawi, maka penulis menganjurkan agar Gereja tetap menumbuhkan apresiasi terhadap nyanyian tersebut sebagaimana yang dianjurkan dalam artikel 116 Konstitusi Liturgi. Menyoal penggunaan bahasa Latin, Gereja perlu memandang peluang positif globalisasi sebagai sebuah zaman keterbukaan informasi dan komunikasi. Dengan peluang ini, bahasa Latin dapat perlahan-lahan dikembangkan sebagai bahasa yang mempersatukan liturgi gereja Katolik. Dalam hal ini, menjadi wajar jika nyanyian Gregorian harus tetap dilestarikan dalam liturgi Gereja sepanjang masa. Beberapa usul saran ini, kiranya bermanfaat bagi upaya mewujudkan citra musik liturgi. Dengan usaha-usaha demikian, musik liturgi Gereja akan senantiasa menjadi berdaya guna sebagai simbol rahmat pengudusan umat beriman dalam sebuah perayaan liturgi Gereja.

DAFTAR PUSTAKA

I. DOKUMEN-DOKUMEN:

Dokumen Konsili Vatikan II. Sacrosantum Consillium, terj. R. Hardawiryana. Jakarta: Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI, 2003.

Pedoman Umum Misale Romawi, terj. Komisi Liturgi KWI. Ende: Nusa Indah, 2002.

Seri Dokumen Gerejawi Nomor 40: Liturgi Romawi dan Inkulturasi, terj. Komisi Liturgi KWI. Jakarta: Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI, 2008.
MAWI, Komisi Liturgi. Bina Liturgia I: Inkulturasi. Jakarta: Obor, 1985.
Instruksi Tentang Musik Liturgi [t.p.]. Ende: Nusa Indah, 1967.

II. KAMUS DAN ESIKLOPEDI:

Departemen Pendidikan Nasional. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, 2001.
Echols, John M., Shadily, Hassan. Kamus Inggris Indonesia. Jakarta: Gramedia, 1976.

Ensiklopedi Musik [t.p.]. Jakarta: Delta Pamungkas, 1997.

Heuken, A. Ensiklopedi Gereja. Jld. V. Jakarta: Cipta Loka Caraka, 2005.
Japi, Tambajong. Ensiklopedi Musik. Jld. II. Jakarta: Adi Pustaka, 1992.
Mariyanto, Ernest. Kamus Musik Liturgi Sederhana. Yogyakarta: Kanisius, 2004.
Salim, Peter. The Contemporary English-Indonesian Dictionary. Jakarta: Modern English Press, 1991.
Setiawan, B. Eksiklopedi Indonesia. Vol. 10. Jakarta: Adi Pustaka, 1988.
Shadily, Hassan. Ensiklopedi Indonesia. Jld. III. Jakarta: Ichtiar Baru-Van Hoeve, 1982.

III. BUKU-BUKU:

Chupungco, Anscar J. Liturgical Inculturation: Sacramentals, Religiosity and Catechesis. Minnesoto: The Liturgical Press Collegeville, 1992.
-----------------------. Penyesuaian Liturgi dalam Budaya, terj. Komisi Liturgi KWI. Yogyakarta: Kanisius, 1987.
Collins, Michael., Price, Mathew. The Story of Christianity, terj. Natalias, et al. Yogyakarta: Kanisius, 2006.
Dickson, A. Wilson. The Story of Christian Music. Minneapolis: Fortress Press, 2003.
Giddens, Anthony. Run Away World: Bagaimana Globalisasi Merombak Kehidupan Kita, terj. Andry Kristiawan dan Yustina Koen. Jakarta: Gremedia Pustaka Utama, 2001.
Hopkins, Antony. Understanding Music. New York: Oxford University Press, 1999.
Huck, Gabe. Liturgi Yang Anggun dan Menawan, terj. Komisi Liturgi KWI. Yogyakarta: Kanisius, 2001.
Saragih, Winnardo. Misi Musik: Menyembah Atau Menghujat Allah. Yogyakarta: ANDI, 2008.
Kirchberger, Georg., Boli Ujan, Bernardus (ed). Liturgi Autentik dan Relevan. Maumere: Ledalero, 2006.
KWI, Komisi Liturgi. Puji Syukur. Jakarta: Obor, 1992.
Letor, Anton Sigoama. Komposisi Lagu Menuju Musik Liturgi. Ende: Nusa Indah, 1984.
Naisbitt, John. High Tech Touch: Pencarian Makna Di Tengah Perkembangan Pesat Teknologi, terj. Dian R. Basuki. Bandung: Mizan, 2001.
Mariyanto, Ernest (ed.). Simbol: Maknanya dalam Kehidupan Sehari-hari dan dalam Liturgi. Malang: Dioma, 2001.
Martasudjita, E., Kristanto, J. Musik dan Nyanyian Liturgi. Yogyakarta: Kanisius, 2000.
Martasudjita, Emanuel. Pengantar Liturgi: Makna Sejarah dan Teologi Liturgi. Yogyakarta: Kanisius, 1999.
Pekerti, Widya et.al. Pendidikan Seni Musik dan Tari. Jakarta: Universitas Terbuka, 1999.
Prier, Karl-Edmund. Ilmu Harmoni. Yogyakarta: Pusat Musik Liturgi, 1980.
------------------------. Menjadi Organis. Jld. II. Yogyakarta: Pusat Musik Liturgi, 1997.
-------------------------. Sejarah Musik. Jld. I. Yogyakarta: Pusat Musik Liturgi, 1991. Pusat Musik Liturgi.
Sylado, Remy. Menuju Apresiasi Musik. Bandung: Angkasa, 1983.

IV. ARTIKEL MAJALAH DAN MANUSKRIP

Asa, Theodorus. “Gregorian Perlu Dibudayakan”. Warta Musik Liturgi, No. 191, 1993.
Go, Piet. “Kesetiaan Kreatif dalam Berliturgi”. Majalah Liturgi No. 19, 2008.
Kiti, Daniel. ”Musik Gereja Selayang Pandang”. Warta Musik Liturgi, No. 111, 1986.
Kleden, P. Budi. “Postmodernisme” (manuskrip). Maumere: KSSP-STFK Ledalero, 2007.
Oleona, Ben. “Beberapa Catatan Mengenai Iringan Organ dalam Gereja”. Mingguan Hidup, No. 30, 1986.
Prier, E. Karl. “Inkulturasi Musik Liturgi”. Majalah Liturgi, No. 19, 2008.
---------------. “Nyanyian Gregorian dan Tempatnya dalam Ibadat Kita Sekarang”. Warta Musik Liturgi, No. 107, 1986.
----------------. “Menemukan Spiritualis Pelayanan dalam Bermusik”. Warta Musik Liturgi, No. 06, 2004.
----------------. ”Musik Gereja dalam Peralihan”. Warta Musik Liturgi, No. 06, 2003.
----------------. “Musik Gereja”. Warta Musik Liturgi. No. 3, 1999.
---------------. “Musik Tradisional Non-Jawa”. Warta Musik Liturgi, No. 2. 1999.
----------------. “Samakah Musik Gereja Lokal dan Internasional”. Warta Musik Liturgi, No. 06, 2008.
Salim, Djohan. “Musik Pop Sakral, Mungkinkah”. Warta Musik Liturgi, No. 207, 2004.
-----------------. “Polifoni, Motet Zaman Renaissance”. Warta Musik Liturgi, No. 192, 1993.
-----------------. “Progresi Lagu-Lagu Karismatik”. Warta Musik Liturgi, No. 3, 1997.
Sezi, Elisabeth. “Belajar Menghayati Musik Gereja Lokal”. Warta Musik Liturgi, No. 06, 2008.
Singkoh, Harry. “Musik Gereja Katolik di Indonesia Zaman Sekarang”. Warta Musik Liturgi, No. 222, 1995.
Soetanta, Antonius. “Musik Religius di Mata Agama Katolik”. Majalah Liturgi, No. 6, 2005.
Sudarminta, A. “Gerakan dalam Lagu”. Warta Musik Liturgi, No. 107, 1986.
Sukorhadi, Ali. “Lagu Bergaya Gregorian”. Warta Musik Liturgi, No. 209, 1994.
Tangi, M. Antonius. “Liturgi: Sumber dan Puncak Kehidupan” (manuskrip). Ledalero: STFK, 2007.
------------------------. “Liturgi Pastoral” (manuskrip). Ledalero: STFK, 2007.
Tim Redaksi Majalah Warta Musik. “Arena Dialog”. Warta Musik Liturgi, No. 01, 2003.
Tim Redaksi Majalah Liturgi. “Wawancara tentang Sacramentum Caritatis (bagian 3)”. Majalah Liturgi, No. 6, 2007.
Tridiatno, Agus. ”Mengepopkan Nyanyian Liturgi”. Warta Musik Liturgi, No. 145, 1989.
Uskono, Fritz. “Estetika Musik: Sebuah Refleksi Atas Pengalaman Estetis Manusia”. VOX, No. 46, 2002.
Widodo, S. Theo. “Musik Gregorian Selayang Pandang” Warta Musik Liturgi No. 104, 1986.
Widyawan, Paul. “Nilai-Nilai Inkulturasi”. Warta Musik Liturgi, No. 1, 1999.
----------------. “Profan dan Sakral”. Warta Musik Liturgi, No. 5, 2000.
Widyawan, Paul. et. al. “ Gerakan Karismatik: Antara Pro dan Kontra”. Warta Musik Liturgi, No. 3, 1997.
----------------. “Istilah Musik Liturgi”. Warta Musik Liturgi, No. 120, 1987.
----------------. "Mengenal Lagu Ibadat dalam Agama Islam, Budha, Hindu, Kristen: Suatu Dialog”. Warta Musik Liturgi No. 6, 1998.
---------------. “Organis Gereja Zaman Sekarang” Warta Musik Liturgi, No. 06, 2003.
Naben, Yanto. ”Intensionalitas dan Estetika Religius: Suatu Perjumpaan dalam Liturgi Gereja Katolik”. VOX, No. 46, 2002.

V. SITUS-SITUS INTERNET

Ambarwati, Lusi. “Musik Liturgi”. (online), 2007. http://kkmkarnoldus. blogspot.com/ 2007/12/ musik-liturgi.html. Diakses, 29 Januari 2009.
Bauk, Vitalis. “Komentar Mgr. Albert Malcolm Ranjith tentang Dokumen Sacramentum Caritatis”. (online), 2007. http://www.mail-archive.com/ santothomas_ kelapa2@ yahoo groups. com/ msg00096. html. Diakses, 30 Januari 2009.
Benediktus XVI, “Dekrit Sacramentum Caritatis”. (online), 2007. http://www.vatican.va/holy_father/benedict_xvi. Diakses 28 Januari 2009.
Igho, Joshua. “Organ Tunggal, Sebuah Pembodohan?” (online), 13 Oktober 2008. http://kompas.com/ index.php/ read/xml. Diakses, 6 Januari 2009.
Kardinal Francis Arinze, “Butir-Butir Pembaruan Liturgi”, (online), http://yesaya.indocell.net/id782.htm. Diakses: 28 November 2008.
Lambertus L. Hurek, “Musik Liturgi Katolik Jawa”. (online), 2007. http://hurek. blogspot.com/2007/11/ musik-liturgi-katolik-jawa. Diakses, 28 Januari 2009.
Majalah UCA News. (online), 11 Juli 2008. http://www.ucanews.com. Diakses, 28 Januari 2009.
Mariyanto, Ernest (terj). “Sambutan Kardinal Francis Arinze pada Pertemuan Nasional Federasi Komisi Liturgi Keuskupan se-Amerika Serikat di Chicago”. (online), 2003. http://yesaya.indocell. net/id782. htm. Diakses, 18 Januari 2009.
Marcel, Gabriel. “Creative Fidelity”. New York: Farrar Strauss and Company. (online), 1964. http://www.ecampus.com/book/. Diakses 24 Januari 2009.
Pidato Paus Benediktus XVI. “Creative Fidelity To Christian Heritage”. (online),2006. http://faithofthefathersbenedictxvi. blogspot.com/. Diakses 26 Januari 2009.
Musik Yunani [t.p.]. (online). http: //www.warungmusik.net. Diakses, 8 Januari 2009.
Perbandingan Musik Pop Rohani dan Musik Liturgi [t.p.]. (online), 2007. http://santamaria.or.id/. Diakses, 26 Januari 2009.
Musik Liturgi [t.p.] (online), http://id.wikipedia.org/. Diakses, 12 Desember 2008.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar